Showing posts with label Character Building. Show all posts
Showing posts with label Character Building. Show all posts

Sunday, November 15, 2009

Seminar 2 Hari dan Pemecahan Rekor Dunia (Guinness World Records)


Orangtua (dan calon orangtua)  dituntut untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kualitas pribadi masing-masing sehingga mampu mendampingi putra-putrinya dalam mengarungi kehidupan yang berwarna-warni.  Warna yang terkadang membuat para orangtua (dan calon orangtua) terkaget-kaget lalu kuatir akan masa depan anak-anaknya. Bagaimana putra-putri kita akan siap menghadapi kehidupan apabila kita sebagai orangtua (dan calon orangtua) sendiri kebingungan menyikapinya, bukan?.

Untuk menyiapkan mental yang lebih positif dalam menghadapi dinamika kehidupan yang beragam, ada baiknya para orangtua (dan calon orangtua) mengikuti dan menghadiri berbagai seminar yang berkaitan dengan pengembangan diri.  Salah satu kegiatan seminar yang sangat menarik akan diadakan pada tanggal 5 dan 6 Desember 2009 di dome pantai carnival Ancol, Jakarta.

Pada seminar yang akan dihadiri oleh peserta dari sedikitnya 35 negara dari lima benua tersebut juga akan diselenggarakan sebuah kegiatan yang akan dicatatkan sebagai rekor dunia.

Bagi pembaca yang ingin berpartisipasi dalam seminar dan pemecahan rekor dunia tersebut silahkan menghubungi bapak Edi Djuhaedi (hp no. 081382604400) untuk mendapatkan tiket masuknya.


Saturday, March 1, 2008

Peranan Keluarga dalam Pendidikan Karakter Anak

Oleh :
Melly Latifah

Saat di layar televisi kita melihat berbagai tindak kekerasan, pelecehan seksual dan tindak kriminal lainnya yang terjadi baik dalam keluarga maupun di lingkungan lain, maka muncul pertanyaan di benak kita : ”Apa yang terjadi dengan bangsa kita ? Pertanyaan yang sama juga muncul ketika kita mengetahui berbagai tindak KKN di lingkungan pemerintahan, BUMN, atau perusahaan swasta yang merugikan keuangan negara dalam hitungan yang tidak terbayangkan. Bahkan ketika gaji kita dipotong tanpa alasan yang jelas atau kepangkatan kita tertunda hanya karena kurang komisi. Apa yang didengar, dilihat dan dialami oleh kita tersebut mengacu kepada satu hal, yaitu karakter.

Karakter dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangannya

Karakter didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai pihak. Sebagian menyebutkan karakter sebagai penilaian subyektif terhadap kualitas moral dan mental, sementara yang lainnya menyebutkan karakter sebagai penilaian subyektif terhadap kualitas mental saja, sehingga upaya merubah atau membentuk karakter hanya berkaitan dengan stimulasi terhadap intelektual seseorang (encyclopedia.thefreedictionary.com, 2004). Coon (1983) mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Sementara itu menurut Megawangi (2003), kualitas karakter meliputi sembilan pilar, yaitu (1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; (2) Tanggung jawab, Disiplin dan Mandiri; (3) Jujur/amanah dan Arif; (4) Hormat dan Santun; (5) Dermawan, Suka menolong, dan Gotong-royong; (6) Percaya diri, Kreatif dan Pekerja keras; (7) Kepemimpinan dan adil; (8) Baik dan rendah hati; (9) Toleran, cinta damai dan kesatuan. Jadi, menurut Ratna Megawangi, orang yang memiliki karakter baik adalah orang yang memiliki kesembilan pilar karakter tersebut.

Karakter, seperti juga kualitas diri yang lainnya, tidak berkembang dengan sendirinya. Perkembangan karakter pada setiap individu dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan faktor lingkungan (nurture). Menurut para developmental psychologist, setiap manusia memiliki potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensi yang terkait dengan karakter atau nilai-nilai kebajikan. Dalam hal ini, Confusius – seorang filsuf terkenal Cina - menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi (Megawangi, 2003). Oleh karena itu, sosialisasi dan pendidikan anak yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan - baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas - sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak.

Jika sosialisasi dan pendidikan (faktor nurture) sangat penting dalam pendidikan karakter, maka sejak kapan sebaiknya hal itu dilakukan ? Menurut Thomas Lichona (Megawangi, 2003), pendidikan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Erik Erikson – yang terkenal dengan teori Psychososial Development – juga menyatakan hal yang sama. Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia, yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock, 1981). Dengan kata lain, bila dasar-dasar kebajikan gagal ditanamkan pada anak di usia dini, maka dia akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki nilai-nilai kebajikan. Selanjutnya, White (dalam Hurlock, 1981)menyatakan bahwa usia dua tahun pertama dalam kehidupan adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial.

Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah - nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini.

Pembinaan Karakter Anak yang Dilakukan oleh Keluarga

Pada dasarnya, tugas dasar perkembangan seorang anak adalah mengembangkan pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja. Dengan kata lain, tugas utama seorang anak dalam perkembangannya adalah mempelajari ”aturan main” segala aspek yang ada di dunia ini. Sebagai contoh, anak harus belajar memahami bahwa setiap benda memiliki hukum tertentu (hukum-hukum fisika), seperti : benda akan jatuh ke bawah, bukan ke atas atau ke samping (hukum gravitasi bumi); benda tidak hilang melainkan pindah tempat (hukum ketetapan obyek), dll. Selain itu, anak juga harus belajar memahami aturan main dalam hubungan kemasyarakatan, sehingga ada hukum dan sanksi yang mengatur perilaku anggota masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Garbarino & Brofenbrenner (dalam Vasta, 1992), jika suatu bangsa ingin bertahan hidup, maka bangsa tersebut harus memiliki aturan-aturan yang menetapkan apa yang salah dan apa yang benar, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang adil dan apa yang tidak adil, apa yang patut dan tidak patut. Oleh karena itu, perlu ada etika dalam bicara, aturan dalam berlalu lintas, dan aturan-aturan sosial lainnya. Jika tidak, hidup ini akan ”semrawut” karena setiap orang boleh berlaku sesuai keinginannya masing-masing tanpa harus mempedulikan orang lain. Akhirnya antar sesama menjadi saling menjegal, saling menyakiti, bahkan saling membunuh, sehingga hancurlah bangsa itu.

Memahami ”aturan main” dalam kehidupan dunia dan menginternalisasikan dalam dirinya sehingga mampu mengaplikasikan ”aturan main” tersebut dalam kehidupan sehari-hari dengan sebaik-baiknya merupakan tugas setiap anak dalam perkembangannya. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, antri, tidak menyeberang jalan dan parkir sembarangan, tidak merugikan atau menyakiti orang lain, mandiri (tidak memerlukan supervisi) serta perilaku-perilaku lain - yang menunjukkan adanya pemahaman yang baik terhadap aturan sosial - merupakan hasil dari perkembangan kualitas moral dan mental seseorang yang disebut karakter.

Tentu saja kebiasaan baik atau buruk pada diri seseorang - yang mengindikasikan kualitas karakter ini - tidak terjadi dengan sendirinya. Telah disebutkan bahwa selain faktor nature, faktor nurture juga berpengaruh. Dengan kata lain, proses sosialisasi atau pendidikan yang dilakukan oleh keluarga, sekolah, lingkungan yang lebih luas memegang peranan penting, bahkan mungkin lebih penting, dalam pembentukan karakter seseorang.

Menurut Megawangi (2003), anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal. Mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro, maka semua pihak - keluarga, sekolah, media massa, komunitas bisnis, dan sebagainya - turut andil dalam perkembangan karakter anak. Dengan kata lain, mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak. Tentu saja hal ini tidak mudah, oleh karena itu diperlukan kesadaran dari semua pihak bahwa pendidikan karakter merupakan ”PR” yang sangat penting untuk dilakukan segera. Terlebih melihat kondisi karakter bangsa saat ini yang memprihatinkan serta kenyataan bahwa manusia tidak secara alamiah (spontan) tumbuh menjadi manusia yang berkarakter baik, sebab menurut Aristoteles (dalam Megawangi, 2003), hal itu merupakan hasil dari usaha seumur hidup individu dan masyarakat.

a. Keluarga sebagai Wahana Pertama dan Utama Pendidikan Karakter Anak

Para sosiolog meyakini bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa, sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat, sehingga jika keluarga-keluarga yang merupakan fondasi masyarakat lemah, maka masyarakat pun akan lemah. Oleh karena itu, para sosiolog meyakini bahwa berbagai masalah masyarakat - seperti kejahatan seksual dan kekerasan yang merajalela, serta segala macam kebobrokan di masyarakat - merupakan akibat dari lemahnya institusi keluarga.

Bagi seorang anak, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut resolusi Majelis Umum PBB (dalam Megawangi, 2003), fungsi utama keluarga adalah ”sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh, dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga, sejahtera”.

Menurut pakar pendidikan, William Bennett (dalam Megawangi, 2003), keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi Departemen Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan. Apabila keluarga gagal untuk mengajarkan kejujuran, semangat, keinginan untuk menjadi yang terbaik, dan kemampuan-kemampuan dasar, maka akan sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalan-kegagalannya.

Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya, maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Oleh karena itu, setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah.

b. Aspek-aspek Penting dalam Pendidikan Karakter Anak

Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. Menurut Megawangi (2003), ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi, yaitu maternal bonding, rasa aman, dan stimulasi fisik dan mental.

Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa aman sehingga menumbuhkan rasa percaya. Menurut Erikson, dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibu-anak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. Dengan kata lain, ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak.

Kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. Pengasuh yang berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak. Menurut Bowlby (dalam Megawangi, 2003), normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi. Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal.

Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak. Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Menurut pakar pendidikan anak, seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya, mengelus, menggendong, dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia usia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira, antusias mengeksplorasi lingkungannya, dan menjadikannya anak yang kreatif.

c. Pola Asuh Menentukan Keberhasilan Pendidikan Karakter Anak dalam keluarga

Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang dan lain-lain), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Dengan kata lain, pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak.

Secara umum, Baumrind mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis, yaitu : (1) Pola asuh Authoritarian, (2) Pola asuh Authoritative, (3) Pola asuh permissive. Tiga jenis pola asuh Baumrind ini hampir sama dengan jenis pola asuh menurut Hurlock juga Hardy & Heyes yaitu: (1) Pola asuh otoriter, (2) Pola asuh demokratis, dan (3) Pola asuh permisif.

Pola asuh otoriter mempunyai ciri orangtua membuat semua keputusan, anak harus tunduk, patuh, dan tidak boleh bertanya. Pola asuh demokratis mempunyai ciri orangtua mendorong anak untuk membicarakan apa yang ia inginkan. Pola asuh permisif mempunyai ciri orangtua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat. Kita dapat mengetahui pola asuh apa yang diterapkan oleh orang tua dari ciri-ciri masing-masing pola asuh tersebut, yaitu sebagai berikut :

  • Pola asuh otoriter mempunyai ciri : Kekuasaan orangtua domina; Anak tidak diakui sebagai pribadi; Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat; Orangtua menghukum anak jika anak tidak patuh.
  • Pola asuh demokratis mempunyai ciri :Ada kerjasama antara orangtua – anak; Anak diakui sebagai pribadi; Ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua; Ada kontrol dari orangtua yang tidak kaku.
  • Pola asuh permisif mempunyai ciri : Dominasi pada anak; Sikap longgar atau kebebasan dari orangtua; Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua; Kontrol dan perhatian orangtua sangat kurang.

Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua, anak belajar tentang banyak hal, termasuk karakter. Tentu saja pola asuh otoriter (yang cenderung menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua) dan pola asuh permisif (yang cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat) sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokratis (yang cenderung mendorong anak untuk terbuka, namun bertanggung jawab dan mandiri) terhadap hasil pendidikan karakter anak. Artinya, jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga.

Pola asuh otoriter cenderung membatasi perilaku kasih sayang, sentuhan, dan kelekatan emosi orangtua - anak sehingga antara orang tua dan anak seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan “si otoriter” (orang tua) dengan “si patuh” (anak). Studi yang dilakukan oleh Fagan (dalam Badingah, 1993) menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan tingkat kenakalan keluarga, di mana keluarga yang broken home, kurangnya kebersamaan dan interaksi antar keluarga, dan orang tua yang otoriter cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah. Pada akhirnya, hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas karakter anak.

Pola asuh permisif yang cenderung memberi kebebesan terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan karakter anak. Bagaimana pun anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk mengenal mana yang baik mana yang salah. Dengan memberi kebebasan yang berlebihan, apalagi terkesan membiarkan, akan membuat anak bingung dan berpotensi salah arah.

Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam pendidikan karakter anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab. Sementara, orangtua yang otoriter merugikan, karena anak tidak mandiri, kurang tanggungjawab serta agresif, sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah. Menurut Arkoff (dalam Badingah, 1993), anak yang dididik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja. Di sisi lain, anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakan-tindakan merugikan. Sementara itu, anak yang dididik secara permisif cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau terang-terangan.

Menurut Middlebrook (dalam Badingah, 1993), hukuman fisik yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak karena : (a) menyebabkan marah dan frustasi (dan ini tidak cocok untuk belajar); (b) adanya perasaan-perasaan menyakitkan yang mendorong tingkah laku agresif; (c) akibat-akibat hukuman itu dapat meluas sasarannya, misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu ada orangtua tetapi segera melakukan setelah orangtua tidak ada; (d) tingkah laku agresif orangtua menjadi model bagi anak.

Hasil penelitian Rohner (dalam Megawangi, 2003) menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya (karakter atau kecerdasan emosinya). Penelitian tersebut - yang menggunakan teori PAR (Parental Acceptance-Rejection Theory)- menunjukkan bahwa pola asuh orang tua, baik yang menerima (acceptance) atau yang menolak (rejection) anaknya, akan mempengaruhi perkembangan emosi, perilaku, sosial-kognitif, dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika dewasa kelak.

Dalam hal ini, yang dimaksud dengan anak yang diterima adalah anak yang diberikan kasih sayang, baik secara verbal (diberikan kata-kata cinta dan kasih sayang, kata-kata yang membesarkan hati, dorongan, dan pujian), maupun secara fisik (diberi ciuman, elusan di kepala, pelukan, dan kontak mata yang mesra). Sementara, anak yang ditolak adalah anak yang mendapat perilaku agresif orang tua, baik secara verbal (kata-kata kasar, sindiran negatif, bentakan, dan kata-kata lainnya yang dapat mengecilkan hati), ataupun secara fisik (memukul, mencubit, atau menampar). Sifat penolakan orang tua dapat juga bersifat indifeerence atau neglect, yaitu sifat yang tidak mepedulikan kebutuhan anak baik fisik maupun batin, atau bersifat undifferentiated rejection, yaitu sifat penolakan yang tidak terlalu tegas terlihat, tetapi anak merasa tidak dicintai dan diterima oleh orang tua, walaupun orang tua tidak merasa demikian.

Hasil penelitian Rohner menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang menerima membuat anak merasa disayang, dilindungi, dianggap berharga, dan diberi dukungan oleh orang tuanya. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung pembentukan kepribadian yang pro-sosial, percaya diri, dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya. Sementara itu, pola asuh yang menolak dapat membuat anak merasa tidak diterima, tidak disayang, dikecilkan, bahkan dibenci oleh orang tuanya. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri, atau kelihatan mandiri tetapi tidak mempedulikan orang lain. Selain itu anak ini akan cepat tersinggung, dan berpandangan negatif terhadap orang lain dan terhadap kehidupannya, bersikap sangat agresif kepada orang lain, atau merasa minder dan tidak merasa dirinya berharga.

Dari paparan di atas jelas bahwa jenis pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya sangat menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak. Kesalahan dalam pengasuhan anak akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik.

Menurut Megawangi (2003) ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga berakibat pada pembentukan karakternya, yaitu :

  1. Kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik.
  2. Kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya.
  3. Bersikap kasar secara verbal, misainya menyindir, mengecilkan anak, dan berkata-kata kasar.
  4. Bersikap kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit, dan memberikan hukuman badan lainnya.
  5. Terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini.
  6. Tidak menanamkan "good character' kepada anak.

Dampak yang ditimbulkan dari salah asuh seperti di atas, menurut Megawangi akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai kepribadian bermasalah atau mempunyai kecerdasan emosi rendah.

  1. Anak menjadi acuh tak acuh, tidak butuh orang lain, dan tidak dapat menerima persahabatan. Karena sejak kecil mengalami kemarahan, rasa tidak percaya, dan gangguan emosi negatif lainnya. Ketika dewasa ia akan menolak dukungan, simpati, cinta dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. la kelihatan sangat mandiri, tetapi tidak hangat dan tidak disenangi oleh orang lain.
  2. Secara emosiol tidak responsif, dimana anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain.
  3. Berperilaku agresif, yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik.
  4. Menjadi minder, merasa diri tidak berharga dan berguna.
  5. Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya, seperti rasa tidak aman, khawatir, minder, curiga dengan orang lain, dan merasa orang lain sedang mengkritiknya.
  6. Ketidakstabilan emosional, yaitu tidak toleran atau tidak tahan terhadap stress, mudah tersinggung, mudah marah, dan sifat yang tidak dapat dipreaiksi oleh orang lain.
  7. Keseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar, dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja, tawuran, dan lainnya.
  8. Orang tua yang tidak memberikan rasa aman dan terlalu menekan anak, akan membuat anak merasa tidak dekat, dan tidak menjadikan orang tuannya sebagai ”role model” Anak akan lebih percaya kepada "peer group"nya sehingga mudah terpengaruh dengan pergaulan negatif.

Penutup

Karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah - nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini.

Meskipun semua pihak bertanggung jawab atas pendidikan karakter calon generasi penerus bangsa (anak-anak), namun keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Untuk membentuk karakter anak keluarga harus memenuhi tiga syarat dasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik, yaitu maternal bonding, rasa aman, dan stimulasi fisik dan mental. Selain itu, jenis pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya juga menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak di rumah. Kesalahan dalam pengasuhan anak di keluarga akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik.

Kegagalan keluarga dalam melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya, akan mempersulit institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) dalam upaya memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Oleh karena itu, setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak-anak mereka dalam keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Badingah, S. (1993). Agresivitas Remaja Kaitannya dengan Pola Asuh, Tingkah Laku Agresif Orang Tua dan Kegemaran Menonoton Film Keras. Program Studi Psikologi – Pascasarjana, UI. Depok.
  2. Coon, Dennis. (1983). Introduction to Psychology : Exploration and Aplication. West Publishing Co.
  3. http://encyclopedia.thefreedictionary.com. Diakses tanggal 26 April 2004.
  4. Hurlock, E.B. 1981. Child Development. Sixth Edition. McGraw Hill Kogakusha International Student.
  5. Megawangi, Ratna. (2003). Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani. IPPK Indonesia Heritage Foundation.
  6. Vasta, Ross, at all. (1992). Child Psychology : The Modern Science. John Wiley & Sons Inc.

TBA-SBB : Bukan Sekedar Bermain di Bawah Meunasah

oleh : Melly Latifah

Ketika Anda berkunjung ke Kabupaten Aceh Utara, Nangroe Aceh Darusalam (NAD) bisa jadi Anda akan menemukan sekelompok anak usia prasekolah (anak usia TK) yang sedang asyik “bermain” di kolong meunasah-meunasah yang diberi pagar kayu warna-warni. Sekali-kali mungkin terdengar suara anak-anak meneriakkan yel-yel positif dengan penuh semangat, atau menyanyikan lagu dengan riang gembira, atau membentuk kelompok-kelompok kecil mengerjakan sesuatu secara bergotong-royong. Itulah gambaran tentang anak-anak usia prasekolah yang tengah “bermain” di Taman Bermain Anak Semai Beninh Bangsa (TBA-SBB) yang tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, NAD.

TBA-SBB sebagai Komitmen Bersama dalam Membangun Kualitas SDM

Sejak tahun 2003 hingga tahun 2007, ExxonMobil Oil Indonesia, Inc. bekerjasama dengan Indonesia Heritage Fondation dan Pemda setempat telah mendirikan sebanyak 113 TBA-SBB di hampir semua kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Utara. TBA-SBB ini didirikan secara bertahap dengan dukungan dana pendirian dari ExxonMobil Oil Indonesia, Inc. melalui Community Development Program (CDP)-nya.

Sementara itu, Indonesia Heritage Foudation mendukung program ini melalui kegiatan pelatihan guru dan pengembangan kurikulumnya, sedangkan Pemda Aceh Utara memberi dukungan dalam bentuk pemberian honor bagi para guru dan dukungan biaya operasional pendidikan. Dengan demikian, program ini dapat dikatakan sebagai komitmen bersama antar ketiga institusi tersebut dalam rangka turut membangun kualitas sumberdaya manusia Indonesia sejak usia dini sehingga diharapkan kelak dapat menjadi generasi penerus bangsa yang handal.

TBA-SBB meningkatkan APK tingkat TK di Kabupaten Aceh Utara

Jumlah TBA-SBB yang didirikan di Kabupaten Aceh Utara ternyata lebih banyak dari Taman Kanak-kanak (TK) yang ada di kabupaten tersebut (yaitu sekitar 90 TK). Meskipun tidak diperhitungkan dalam penentuan Angka Partisipasi Kasar (APK) tingkat TK, namun faktanya, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, program ini secara signifikan telah membantu Pemda Kabupaten Aceh Utara meningkatkan APK Pendidikan tingkat TK (jika tidak memperhitungkan TBA-SBB, APK tingkat TK tahun 2006 hanya 9,3 %).

Mengapa taman bermain sederhana di kolong meunasah seperti TBA-SBB dapat dinilai sebagai penyumbang kenaikan APK tingkat TK Pemda Kabupaten Aceh Utara? Apakah TBA-SBB dapat disejajarkan dengan TK?

Jika Anda perhatikan secara seksama, ternyata TBA-SBB bukanlah sekedar tempat bermain bagi anak-anak usia prasekolah di kolong meunasah. Namun lebih dari itu, TBA-SBB adalah institusi pendidikan yang dikelola secara sistematis bagi anak usia prasekolah, yang pada mulanya diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga ekonomi lemah yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya ke TK. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa pendidikan yang dilaksanakan di TBA-SBB dilaksanakan seadanya. Sebaliknya, TBA-SBB menyelenggarakan proses pembelajaran secara sungguh-sungguh dengan menggunakan konsep Pendidikan Holistik Berbasis Karakter yang dikembangkan oleh Indonesia Heritage Foudation sejak tahun 2000.

Sebelum diberi kesempatan melaksanakan pembelajaran di TBA-SBB, paling tidak, satu dari guru-guru yang ada di setiap TBA-SBB digodok dan dibekali konsep Pendidikan Holistik Berbasis Karakter dalam suatu pelatihan yang diselenggarakan selama 20 hari di Kampus Pendidikan Indonesia Heritage Fondation di Cimanggis Km 37, Depok. Dengan dibekali konsep integrated learning yang menekankan pada pembelajaran yang kontekstual, joyful dan terpusat pada anak serta menekankan pada karakter, diharapkan dapat dihasilkan guru-guru yang berkualitas dan handal dalam penyelenggaraan pendidikan di TBA-SBB sehingga dapat dihasilkan anak-anak yang cerdas secara kognitif sekaligus berkarakter baik.

Hasil penggodokan tehadap para guru serta penerapan konsep Pembelajaran Holistik Berbasis Karakter di TBA-SBB itu ternyata membuahkan hasil yang menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari hasil Studi Evaluasi Keberhasilan Program TBA-SBB di Kabupaten Aceh Utara, NAD yang dilakukan oleh Tim Peneliti dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), Institut Pertanian Bogor (IPB) selama bulan Mei-Juli 2007. Itulah mengapa lulusan TBA-SBB dapat disejajarkan dengan lulusan TK umum, bahkan dapat dikatakan lebih unggul dalam aspek karakter dan kecerdasan majemuknya seperti fakta empiris yang ditemukan dalam studi evaluasi program tersebut.

Secara rinci, hasil studi evaluasi menunjukkan bahwa program pendidikan di TBA-SBB secara nyata berperan besar dalam meningkatkan kualitas beberapa pilar karakter, yaitu : (1) Cinta Tuhan dan ciptaan-Nya; (2) Hormat dan santun; (3) Percaya diri, kreatif dan bekerja keras; (4) Rendah hati; dan (5) Toleransi, cinta damai, dan persatuan. Dalam kelima pilar karakter tersebut, anak-anak TBA-SBB secara nyata mempunyai kualitas yang lebih baik dibandingkan anak TK. Dalam aspek kecerdasan majemuk, anak TBA-SBB juga lebih baik dibandingkan dengan anak TK, khususnya pada kemampuan motorik, logis matematis, bahasa, visual spasial, intrapersonal, maupun kemampuan musikalnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa menyekolahkan anak di TBA-SBB ternyata tidak sekedar menitipkan anak untuk sekedar bermain dan bergembira ria. Namun lebih dari itu, sekolah di TBA-SBB memiliki nilai investasi berupa pembentukan karakter dan kecerdasan majemuk pada anak-anak usia prasekolah.

Bagaimana Keberlanjutan TBA-SBB di Kabupaten Aceh Utara?

Meskipun hasil studi menunjukkan keberhasilan program TBA-SBB di Kabupaten Aceh Utara, namun banyak pihak yang bertanya tentang keberlanjutan program TBA-SBB tersebut. Lalu, siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab terhadap keberlanjutannya?

Program TBA-SBB juga program pendidikan usia dini lainnya tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak tertentu saja. Keberlanjutan program TBA-SBB - yang memfokuskan pada penerapan Pendidikan Holistik Berbasis Karakter - juga sangat tergantung pada dukungan pemerintah kabupaten (Bupati, Bappeda, dan Dinas Pendidikan), Tim Penggerak PKK, sektor swasta, dan masyarakat, serta komitmen guru dan pengelola sekolah. Oleh karenanya, untuk menjamin keberlangsungan dan pengembangan program TBA-SBB di masa mendatang, diperlukan strategi, antara lain :
  1. Meningkatkan komitmen dari seluruh stakeholder yang ada di Kabupaten Aceh Utara;
  2. Meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar (mencakup sarana dan prasarana, kualitas guru) baik untuk guru TBA-SBB maupun guru TK; serta
  3. Menguatkan kelembagaan pengelola program TBA-SBB (mencakup Tim Penggerak PKK di tingkat Kelurahan/Desa hingga Kabupaten) yang diperkuat dengan sistem pengelolaan, monitoring, evaluasi, dan pengembangan networking (jejaring) dengan LSM atau lembaga donor dalam penyelenggaraan program pendidikan anak usia prasekolah.

Beberapa strategi tersebut tentu saja tidak bisa dicapai begitu saja tanpa adanya komitmen bersama dari semua stakeholders di kabupaten Aceh Utara. TBA-SBB secara nyata telah berperan besar dalam membentuk karakter dan kecerdasan majemuk anak-anak usia dini di Kabupaten Aceh Utara. Jalan telah terbuka, bukti nyata telah ada di depan mata. Kini adalah saatnya bagi masyarakat Kabupaten Aceh Utara untuk bergerak bersama demi perbaikan kualitas sumberdaya manusia Indonesia menuju kehidupan yang lebih baik. Semoga Tuhan melapangkan jalan bagi kita untuk melangkah menuju cita-cita terbentuknya sumberdaya manusia Indonesia yang berkualitas, yang mampu bersaing di arena pertarungan global.

Wednesday, February 20, 2008

The Role of Family on Development of Child Character

by : Melly Latifah
As television shows us about various violence, sexual harrashment and other criminal actions at home and our neighborhood, then we asked a question:” What is wrong with our character? What happens in our home? Why does it happen?” This essay will discuss about definition of character, factors that influence it, and the role of family on character development.

There are some definitions about character. Some said that character is subjective assessment about the quality of moral and mental; while some said that character is subjective assessment of quality of mental only, so the effort to change or build it is only related with stimulate someone’s intelectuality1). Dennis Coon2) said that character is subjective assessment about someone’s personalities related with personalities attributes which can be or cannot be accepted by community.
Character, as other self qualities, does not grow alone. It is influenced by many factors. In general there are two factors that influence character developnment, namely nature and nurture 3).

Nature factor is endowment potent that determines human development by genetic mechanism. Nurture factor is environment factor that determine human development by parenting and education practices. Developmental psychologist believe that every human being has endowment potent that will be applied after the birth, including potent of character. Confusius said that if those potent are not followed by education and socialization, human being will still as thinking animal, even worst 4).

According to Thomas Lichona, as well as Erik Erikson, character education must be conducted at the very beginning of life. Erikson said that child is the early figure of manhood, which is wisdom to grow up slowly but sure.

According to Ratna Megawangi (2003), a child will be grown up as a characterized person in a characterized environment. Therefore, family - as the first environment of a child - hold a main role in development of child’s character. There are three needs to develop good personality, namely : maternal bonding, security, and physically and mentally stimulation.

Maternal bonding, which is the psichologycal closeness with mother, takes an important role in child trust development. Erikson said, the close mother-child bonding emotionally in the very beginning of life results the good personality of a child.

The need for security is the child’s need for stable and secure environment. This is important because the unstable environment will ruin the emotional development of a child.

Physically and mentally stimulation need a great attention from the parents. The great attention from a mother will help a child to be a joyful, an entusiatically explore the environment, and a creative kid.

Furthermore, parenting pattern plays an important role in acquisition of good character by children. Parenting pattern can be defined as a parent-child interaction pattern which includes fullfillness of physical and psychological needs. Baumrind5) categorized these pattern as follows : (1) Authoritarian, (2) Authoritative, (3) permissive. Hurlock and Hardy & Heyes6) called these pattern as (1) otoritarian, (2) democracy, and (3) permissive.

Otoritarian pattern is characterized by : (1) parents domination; (2) unconsidered child as a person; (3) very tight control of child behaviour; (4) punishment for disobey child. Democracy pattern can be identified by: (1) there is a cooperation between parents and child; (2) child is considered as a person; (3) parents give guidance and direction; (4) parents is not-rigid in controlling child. Permissive pattern can be identified by: (1) child dominates parents; (2) parents give freedom to their child; (3) there is no parents guidance and direction; (4) it is very lack of parent control.

It seems that democracy pattern is very condusive pattern for character education of child. According to Arkoff7), democracy pattern produces child that expresses his or her aggresivity in a constructive way; in contrast, it is very different with child who had grown up in autoritarian pattern. Meanwhile, child that had grown up in permissive pattern expresses his or her aggresivity vulgarly.

In conclusion, we can say that character is the quality of someone’s moral and mental. The development of character is influenced by nature and nurture. Each human being potentially has a good character, but this potent must be on-going developed through socialization and education from the very beginning of life. Family is the first and the main environment in education of child’s character. There are three factors that a family should has for generating a good personality, as follows : maternal bonding, secureness (security), physical and mental stimulation. In addition, parenting pattern also plays an important role for the success of character building. The rise of not-characterized community is a result of the failed of character building in family. Therefore, each family must be aware about the important role of character building for the shake of nation building.

1) http://encyclopedia.thefreedictionary.com/. Accessed on April 26, 2004.
2) Coon, Dennis. (1983). Introduction to Psychology : Exploration and Aplication. West Publishing Co.
3) Megawangi, Ratna. (2003). Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani. Indonesia Heritage Foundation.
4) Ibid.
5) Badingah, Siti. (1993). Agresivitas Remaja Kaitannya dengan Pola Asuh, Tingkah Laku Agresif Orang Tua dan Kegemaran Menonoton Film Keras. Program Studi Psikologi – Pascasarjana, UI. Depok
6) Ibid
7) Ibid