Wednesday, August 21, 2013

One by One Mascara

one by one mascara picture and prices

one by one mascara

Yves Saint Laurent YvesSaintLaurent Volume Effet Faux Cils estimated prices $30.00
Yves Saint Laurent Luxurious Mascara  estimated prices for $30.00
Yves Saint Laurent Luxurious Mascara for $30.00
Cover Girl CoverGirl Professional Mascara, estimated prices $4.24 - $6.01
Cover Girl CoverGirl Professional Mascara estimated prices $4.24 - $8.82
Maybelline Volum'Express One By One Mascara, estimated prices  $5.49 - $5.94

one by one mascara-1

MAC Cosmetics MAC 'Zoom Fast Black Lash' Mascara $25.95
Revlon Almay Get Up & Grow Mascara, Waterproof $6.97
MAC Cosmetics MAC Zoom Lash Zoomblack $25.00
MAC Cosmetics MAC 'Prep + Prime' Future Length $30.00 - $35.00

One By One Lyrics

One by one which is sung by Laza Morgan. You can see the lyrics below. lyrics one by one is made in the form of an image, click the image to enlarge. One by one is very famous in my town, a lot of young love this song. you love this song as well? Lets take the picture below and find it mp3 download on the official website.

one by one lirycs

Monday, October 1, 2012

MENCEGAH PENCULIKAN ANAK

Beberapa tahun terakhir ini, penculikan anak-anak makin marak terjadi. Banyak motif yang melatarbelakangi tindakan tersebut, di antaranya adalah masalah ekonomi (seperti pemerasan dan jual beli anak), keinginan seksual, dendam pribadi terhadap orangtua si anak, dll. Dalam hal ini, orangtua dan anak perlu selalu waspada agar terhindar dari penculikan.

Girls_silhouette_on_wall_child_is_bouncing_on_a_trampolineBanyak cara yang dilakukan oleh penculik untuk mendapatkan anak yang ingin diculiknya. Modus yang paling sering dilakukan adalah merayu anak dengan diiming-imingi permen, coklat, mainan, bahkan diajak ke tempat hiburan. Modus baru yang dilakukan adalah menjebak orangtua dengan lomba balita, mengaku saudara dengan mengelabui perawat di rumah sakit.

Apa yang harus orang tua lakukan untuk mengatisipasi atau mencegah terjadinya penculikan anak? Berikut beberapa tips bagi orang tua:

  1. Waspada Waspada terhadap karyawan-karyawan Anda. Pastikan pula orang rumah (sopir, pembantu atau mantan pembantu, mantan sopir) bukan berasal dari kalangan orang yang memiliki sifat jahat. Karena itu, sebelum Anda merekrut mereka menjadi karyawan, teliti baik-baik latar belakangnya. Karena tidak sedikit para penculik sengaja menggunakan pembantu yang disalurkan sebagai perantara untuk memuluskan rencananya. Atau, bisa jadi calon karyawan yang Anda rekrut sudah tahu pasti situasi rumah Anda. Ini akan lebih berbahaya lagi.
  2. Jangan Beri Kesempatan Ini penting buat Anda yang jarang di rumah. Waktu Anda sedang di kantor atau di tempat lain, biasanya hal ini akan menjadi waktu kemenangan bagi para karyawan karena tidak terpantau. Oleh karena itu, jangan beri kesempatan pada karyawan untuk terlalu sering membiarkan orang lain datang ke rumah Anda. Terutama orang-orang yang hanya sekedar iseng ingin menemui atau berbincang-bincang dengan karyawan Anda.
  3. Jangan Memancing Meskipun mampu, sebaiknya anak Anda tidak perlu mengenakan perhiasan yang menyolok atau membawa barang-barang mahal lainnya. Jangan biarkan anak mengenakan perhiasan berharga (kalung, gelang, anting), atau membawa barang berharga secara terbuka (membuka-buka HP di tempat umum). Hal ini bisa memicu terjadinya penculikan.
  4. Komunikasi Sesibuk apapun Anda, sempatkan untuk tetap berkomunikasi dengan anak. Paling tidak untuk mengetahui keadaan dan lokasi keberadaan anak Anda. Begitu pula dengan pihak sekolah. Di sekolah, orangtua harus tahu persis jam belajar sekolah dan dengan siapa anak berangkat dan pulang sekolah. Beri tahu pihak sekolah orang yang sudah Anda percaya untuk mengantar dan menjemput anak Anda.
  5. Pastikan Sekolah Bertanggungjawab Anda perlu memastikan pihak sekolah agar bersikap tegas dan bertanggungjawab terhadap anak didiknya selama berada di sekolah. Termasuk memperhatikan orang yang biasa mengantar jemput anak-anak. Jika ada penjemput yang baru, sebaiknya pihak sekolah atau guru terlebih dulu menghubungi orangtua anak yang bersangkutan.
  6. Tanggap Terhadap Bahaya Penculikan Bila penculikan benar-benar terjadi, Anda harus mengetahui apa yang harus Anda lakukan. Pertama, berani melaporkan penculikan tersebut pada pihak kepolisian meski ada ancaman dari pihak penculik. Anda bisa melaporkannya secara berlebihan bila pelaku belum tertangkap karena justru akan membahayakan nasib korban.
  7. Ajari dan Ingatkan Anak Anda Ajari anak Anda kiat-kiat mengantisipasi dan menghindari aksi penculikan.

Selanjutnya, sering-seringlah mengingatkan kepada anak apa yang telah Anda ajarkan itu. Mengajari anak bagaimana menghindari penculikan merupakan hal yang paling penting untuk dilakukan para orang tua. Hal ini mengingat anak tidak selalu berada dekat dengan orang tua. Tujuannya adalah agar anak secara mandiri dapat mengantisipasi atau menghindari aksi penculikan.

Berikut adalah hal-hal yang harus diajarkan kepada anak Anda agar terhindar dari penculikan (dikutip dari eHow, Selasa (27/10/2009 dalam health.detik.com):

  1. Menggunakan pengalaman sehari-hari untuk mengajarkan anak mengenai keamanan dirinya sendiri. Katakan pada anak agar jangan mau pergi dengan orang yang belum dikenal di manapun, meskipun orang tersebut terlihat baik atau ramah serta menjanjikan sesuatu. Dan jika anak merasa tidak aman, ajarkan untuk pergi ke restoran, pos polisi terdekat atau tempat umum lainnya untuk meminta pertolongan.
  2. Memberitahu anak agar selalu menjaga jarak dengan orang asing dan sebaiknya segera lari atau berteriak jika orang asing tersebut semakin mendekat.
  3. Beritahu anak agar selalu berjalan atau bermain bersama teman-temannya dan jangan pergi sendirian.
  4. Memberitahu anak batasan mengenai sikap yang boleh atau tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya. Seperti tidak boleh memegang bagian tubuh si anak, sehingga anak akan berusaha untuk menghindar jika ada orang lain yang ingin menyentuhnya. Jika orang tersebut tetap memaksa, beri tahu anak agar segera menghindar atau berlari.
  5. Menggunakan pengalaman orang lain atau teman dalam mengajarkan anak, karena anak akan lebih mudah mengingat sebuah cerita. Setelah itu beritahu anak hal apa yang harus dilakukannya jika berada pada situasi seperti itu.
  6. Ajarkan anak agar tidak menerima atau mengonsumsi apapun yang diberikan oleh orang lain. Beritahu anak bagaimana menolak yang sopan, jika anak terpaksa menerima sebaiknya jangan langsung dikonsumsi.
  7. Beritahu anak mengenai nama orangtua dan nomor telepon yang bisa dihubungi, hal ini berguna jika anak dalam masalah dan ingin meminta pertolongan. Serta ajarkan anak-anak untuk mempercayai apa kata nalurinya, jika anak merasakan sesuatu yang aneh maka segera melarikan diri.

Selain itu diperlukan pula perhatian dari orangtua terhadap keselamatan anaknya di tempat umum atau sekolah agar terhindar dari penculikan, seperti berikut:

  1. Jika jarak sekolah dan rumah cukup jauh, maka anak bisa diantar jemput. Beritahu anak agar jangan mau pulang dengan orang asing atau orang tidak biasa menjemputnya. Orangtua juga bisa berpesan pada gurunya agar menemani sang anak sampai dirinya atau orang yang sudah dikenal menjemputnya.
  2. Jika pergi ke mal yang ramai pengunjungnya, sebaiknya orangtua tetap menggenggam tangan sang anak dan jangan sampai terlepas. Namun, jika anak masih kecil tidak ada salahnya untuk menggendongnya.
  3. Jangan meninggalkan anak sendirian di manapun dan kapanpun, termasuk saat anak ingin ke kamar mandi di mal atau tempat umum lainnya.
  4. Saat anak bermain di tempat bermain umum, dampingi selalu anak di sampingnya. Jika tidak bisa masuk ke dalam, jangan melepaskan pandangan mata atau pengawasan dari sang anak.
  5. Saat anak berada di rumah, pastikan pintu dan jendela tertutup dan terkunci agar anak tidak keluar rumah.
  6. Jangan biarkan anak mengangkat telepon atau membukakan pintu, karena hal ini sangat berisiko. Penculik saat ini sangat berani dan hanya butuh waktu beberapa menit untuk membawa kabur sang anak.

Sumber :

Tuesday, June 19, 2012

Theater for kids

Sing in theater Looking for a kids theater ticket? TicketAmerica.com have the best selection of tickets for just about any event that takes place in the United States or abroad. They also specialize in obtaining hard to find seats for smaller venues and theaters. They can plan and execute anything from a large corporate outing to a family night out. They are often used as way of rewarding a particularly good employee or business client. They can served us a ticket for Polka Theater, moore theatre tickets, arie crown theater tickets, and monty python spamalot tickets.

Theater_Guthrie_New

Friday, March 5, 2010

STRATEGI KOGNITIF (COGNITIVE STRATEGIES)

By: Melly Latifah
(March, 2010)

Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University

Belajar merupakan aktifitas mental yang cukup penting dalam pengembangan diri seseorang. Untuk mempelajari segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, termasuk informasi tekstual, setiap individu mempunyai strategi belajar tertentu. Strategi belajar ini disebut strategi kognitif.

1. Definisi Strategi Kognitif

Strategi kognitif adalah operasi-operasi atau prosedur-prosedur mental yang bisa digunakan individu untuk mendapatkan, menahan, serta mengambil kembali berbagai pengetahuan dan kepandaian (Rigney, 1978 dalam Jonassen (1987).  Strategi kognitif mencerminkan bagaimana seseorang belajar, mengingat, dan berfikir serta bagaimana memotivasi diri mereka sendiri (Weinstein dan mayer, 1985 dalam Jonassen (1987). Jonassen (1987) berkesimpulan bahwa strategi-strategi kognitif merepresentasikan kegiatan-kegiatan kognitif yang sangat luas yang mendukung pembelajaran seseorang. Dengan demikian, jelas bahwa strategi kognitif sangat penting bagi siapa pun untuk mencapai kompetensi yang baik.

2. Fungsi Strategi kognitif

Strategi kognitif dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah kaitan antara informasi yang disajikan dengan pengetahuan yang sudah ada melalui suatu pemrosesan informasi secara sadar dan sengaja (generatif) dengan tujuan meningkatkan retensinya. Dalam hal ini, Bruning (1983) dalam Jonassen (1987) berpendapat bahwa strategi kognitif memfasilitasi transfer informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.

3. Klasifikasi Strategi kognitif

Secara umum strategi kognitif dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu strategi utama dan strategi pendukung (Jonassen, 1987). Strategi utama dipakai langsung pada materi yang pelajari, yaitu merepresentasikan kegiatan-kegiatan pemrosesan informasi. Sementara itu, strategi pendukung digunakan untuk memelihara iklim belajar yang memadai.

Ada dua jenis strategi utama : strategi pemrosesan materi (informasi) dan strategi kognitif aktif. Strategi kognitif aktif meliputi sistem belajar seperti MURDER atau SQ3R. Strategi pemrosesan materi meliputi strategi-strategi kognitif semacam pembuatan catatan, mengggarisbawahi, dan uji preparasi (seperti, bertanya pada diri sendiri tentang hal yang sedang dipelajari). Bila strategi-strategi kognitif aktif mengasumsikan proses kognitif tertentu dari materi, maka strategi pemrosesan informasi mengutamakan kegiatan-kegiatan pemrosesan secara langsung.

Strategi pemrosesan informasi dikelompokkan menjadi empat.  Keempat jenis strategi pemrossan itu adalah recall, integrasi, organisasi, dan elaborasi, yang masing-masing mencakup beberapa strategi spesifik (Jonassen, 1987).

Strategi-strategi recall konsentrasinya pada praktek pengulangan. Strategi integrasi dan organisasi - disebut juga strategi recall and transformation – merupakan strategi-strategi pemrosesan yang memfasilitasi transformasi informasi ke dalam bentuk yang lebih mudah diingat. Strategi-strategi organisasi membantu dalam menstrukturisasikan dan merestrukturisasi dasar pengetahuan seseorang, yaitu melihat bagaimana ide-ide dihubungkan dengan ide-ide lainnya. Dalam strategi-strategi elaborasi, informasi dielaborasi dengan menambahkan informasi untuk membuat materi lebih menghasilkan citra-citra fisik dan mental.

Selain strategi utama yang beroperasi langsung pada informasi, individu juga selayaknya menggunakan strategi pendukung (Jonassen, 1987). Strategi-strategi pendukung dimaksudkan untuk mendukung pemrosesan informasi dengan membantu individu untuk memelihara orientasi belajar yang baik. Strategi pendukung ini meliputi strategi-strategi sistem belajar, seperti penetapan tujuan, manajemen waktu, manajemen konsentrasi, dan tehnik-tehnik relaktasi, serta strategi-strategi metalearning.

Strategi Metalearning didefinisikan sebagai kesadaran akan pengetahuan dan penggunaan pantauan terhadap sasaran-sasaran kognitif individu, pengalaman dan aksi-aksi, yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dan retensi materi pelajaran (Brezin, 1980 dalam Jonassen, 1987). Metalearning merupakan strategi pendukung yang paling penting yang berdasar pada prinsip-prinsip metamemori.

Menurut Strenberg (1983) dalam Jonassen (1987), metalearning adalah mekanisme kontrol eksekutif tingkat tinggi yang memungkinkan individu merespon situasi belajar yang berbeda dengan cara merefleksi dan menginplementasikan strategi-strategi. Kemampuan metalearning ini sangat penting bagi seseorang untuk memantau sejauh mana perkembangan belajarnya.

Dalam kaitannya dengan metalearning, Flavell dan Wellman (1977) dalam Jonassen (1987) menemukan bahwa individu yang lebih pandai, lebih cakap dalam menyeleksi dan menggunakan strategi yang sesuai untuk memonitor proses penyimpanan dan pengambilan informasi mereka. Individu yang baik tetap sadar untuk memonitor pembelajaraannya secara lebih konsisten.

Brezin (1980) dalam Jonassen (1987) mengidentifikasi lima kelompok strategi metalearning (atau bisa disebut sebagai strategi monitoring), yaitu perencanaan, attending, encoding, reviewing dan evaluasi, yang gambarannya adalah sebagai berikut:
  1. Strategi perencanaan meliputi seleksi (identifikasi sasaran belajar), persiapan (mengaktifkan skemata yang relevan), pengukuran (menentukan kesulitan atau kedalaman proses yang diperlukan), dan estimasi (memprediksi kebutuhan proses informasi dari tugas).
  2. Strategi atttending meliputi pendekatan, pencarian (menghubungkan informasi yang disajikan dengan ingatan), pengkontrasan (membandingkan informasi yang disajikan dengan ingatan), dan validasi (konfirmasi informasi yang disajikan dengan pengetahuan yang sudah ada).
  3. Strategi encoding meliputi elaborasi (mencoba mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah ada) dan menghubungkan secara kualitatif (mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah ada secara lebih dalam).
  4. Strategi review meliputi konfirmasi (pengggunaan informasi baru) pengulangan (mempraktekkan recall), dan perbaikan (revise).
  5. Strategi evaluasi mencakup pengujian (menentukan konsistensi materi baru), dan penilaian (penilaian informasi).
Dari uraian tentang taksonomi strategi kognitif tersebut, dapat disimpulkan bahwa fungsi strategi-strategi metalearning lebih kepada memonitor proses mengetahui daripada menghasilkan pemahaman. Sementara itu, strategi-strategi pemrosesan informasi lebih kepada menghasilkan pemahaman informasi.

Untuk menjadi individu yang kompeten, setiap orang harus memiliki strategi kognitif yang baik. Pressley, et al. (1983) dalam Pressley (1990) berkeyakinan bahwa kompetensi sering merupakan hasil dari penggunaan strategi yang tepat, dan bukan dikarenakan kemampuan superior pribadi atau kerja keras belaka.


Menurut Pressley (1986); Pressley, Borkowski, & Schneider (1987) dalam Pressley (1990), pengguna strategi yang baik adalah seseorang yang mempunyai suatu varitas strategi dan menggunakan prosedur-prosedur tersebut untuk mengatasi tantangan kognitif. Hal ini diperkuat oleh Pressley (1990) yang didasarkan pada hasil penelitian yang membuktikan bahwa individu yang sukses memiliki strategi kognitif yang lebih baik daripada individu yang kurang sukses.

Individu yang memiliki strategi kognitif yang baik adalah individu yang memiliki kesadaran metakognisi. Artinya, yang bersangkutan tidak hanya memiliki strategi-strategi dalam pemrosesan informasi, tetapi juga memiliki strategi-strategi metalearning. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa individu berkesadaran metakognitif lebih strategis dan bertindak lebih baik dibanding individu yang tidak berkesadaran metakognitif (Garner & Alexander, 1989; Pressley & Ghatala, 1990 dalam Schraw & Dennison, 1994). Salah satu sebabnya adalah karena kesadaran metakognitif memungkinkan seseorang untuk merencanakan, merangkai, dan memonitor belajarnya dengan cara yang langsung meningkatkan kepandaiannya. Hal ini diperkuat oleh Resnick (1989) yang menyatakan bahwa individu yang sukses cenderung mengelaborasi dan mengembangkan penjelasan dari buku atau materi lain secara mandiri serta cenderung memonitor pemahaman sendiri. Lebih jauh Schraw & Dennison (1994) menyebutkan bahwa perbedaan dalam penggunaan strategi dan kepandaian lebih berkaitan dengan perbedaan kesadaran metakognitif daripada dengan perbedaan dalam bakat intelektual.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai kompetensi yang optimal, individu harus memiliki strategi kognitif. Strategi kognitif yang selayaknya dimiliki tidak hanya strategi-strategi utama, seperti strategi-strategi pemrosesan informasi yang bekerja lebih kepada menghasilkan pemahaman informasi, tetapi juga strategi-strategi pendukung, seperti : penetapan tujuan, manajemen waktu, manajemen konsentrasi, dan tehnik-tehnik relaktasi, serta strategi-strategi metalearning, yang berfungsi memonitor proses belajar agar iklim belajar yang memadai dapat terpelihara. Semakin banyak strategi kognitif yang dimiliki atau dikuasai, semakin besar peluang seseorang untuk memiliki strategi kognitif yang baik. Selanjutnya, semakin baik strategi kognitif yang digunakan, semakin besar peluang seseorang untuk menjadi individu yang kompeten.


Sunday, November 15, 2009

Seminar 2 Hari dan Pemecahan Rekor Dunia (Guinness World Records)


Orangtua (dan calon orangtua)  dituntut untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kualitas pribadi masing-masing sehingga mampu mendampingi putra-putrinya dalam mengarungi kehidupan yang berwarna-warni.  Warna yang terkadang membuat para orangtua (dan calon orangtua) terkaget-kaget lalu kuatir akan masa depan anak-anaknya. Bagaimana putra-putri kita akan siap menghadapi kehidupan apabila kita sebagai orangtua (dan calon orangtua) sendiri kebingungan menyikapinya, bukan?.

Untuk menyiapkan mental yang lebih positif dalam menghadapi dinamika kehidupan yang beragam, ada baiknya para orangtua (dan calon orangtua) mengikuti dan menghadiri berbagai seminar yang berkaitan dengan pengembangan diri.  Salah satu kegiatan seminar yang sangat menarik akan diadakan pada tanggal 5 dan 6 Desember 2009 di dome pantai carnival Ancol, Jakarta.

Pada seminar yang akan dihadiri oleh peserta dari sedikitnya 35 negara dari lima benua tersebut juga akan diselenggarakan sebuah kegiatan yang akan dicatatkan sebagai rekor dunia.

Bagi pembaca yang ingin berpartisipasi dalam seminar dan pemecahan rekor dunia tersebut silahkan menghubungi bapak Edi Djuhaedi (hp no. 081382604400) untuk mendapatkan tiket masuknya.


Monday, March 2, 2009

Perkembangan Kognitif Anak Balita

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN KOGNITIF
ANAK USIA 1 – 3 TAHUN

Oleh : Melly Latifah
(Updated on March 2010)
Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University

A. Perkembangan Kognitif Anak Usia 1 – 2 Tahun (12 – 24 bulan)

Sewaktu lahir, berat otak anak sekitar 27% berat otak orang dewasa. Pada usia 2 tahun, berat otak anak sudah mencapai 90% dari berat otak orang dewasa (sekitar 1200 gram). Hal ini menunjukkan bahwa pada usia ini, masa perkembangan otak sangat pesat. Pertumbuhan ini memberikan implikasi terhadap kecerdasan anak.

Pada usia 1 – 2 tahun, anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada usia ini, anak mengembangkan rasa keingintahuannya melalui beberapa hal berikut ini :

1. Belajar melalui pengamatan/ mengamati. Mulai usia 13 bulan, anak sudah mulai mengamati hal-hal di sekitarnya. Banyak “keajaiban” di sekitarnya mendorong rasa ingin tahu anak. Anak kemudian melakukan hal-hal yang sering dianggap bermain, padahal anak sedang mencari tahu apa yang akan terjadi kemudian setelah anak melakukan suatu hal sebagai pemuas rasa ingin tahunya. Pada usia 19 bulan, anak sudah dapat mengamati lingkungannya lebih detail dan menyadari hal-hal yang tidak semestinya terjadi berdasarkan pengalamannya.

2. Meniru orang tua. Anak belajar dari lingkungan sekitarnya. Sekitar usia 17 bulan, anak sudah mulai mengembangkan kemampuan mengamati menjadi meniru. Hal yang ditirunya adalah hal-hal yang umumnya dilakukan orangtua. Pada usia 19 bulan, anak sudah banyak dapat meniru perilaku orangtua.

3. Belajar konsentrasi. Pada usia 14 bulan, anak sudah mengarahkan daya pikirnya terhadap suatu benda. Hal ini dapat dilihat pada ketekunan anak dengan satu mainan atau satu situasi. Kemampuan anak untuk berkonsentrasi tergantung pada keadaan atau daya tarik berbagai hal yang ada di sekelilingnya. Kemampuan anak untuk berkonsentrasi pada usia ini adalah sekitar 10 menit.

4. Mengenal anggota badan. Pada usia sekitar 15 bulan, anak sudah dapat diajarkan untuk mengucapkan kata-kata. Anak-anak akan merasa sangat senang jika orangtua mengajarkan kata-kata yang bernamakan anggota tubuhnya sambil menunjukkan anggota tubuhnya.

5. Memahami bentuk, kedalaman, ruang dan waktu. Pada tahun kedua, anak sudah memiliki kemampuan untuk memahami berbagai hal. Melalui pengamatannya, anak menemukan adanya bentuk, tinggi atau rendah benda (kedalaman) dan membedakan kesempatan berdasarkan tempat (ruang ) dan waktu. Pemahaman ini mulai tampak pada usia 18 – 24 bulan.

6. Mulai mampu berimajinasi. Kemampuan berimajinasi atau membentuk citra abstrak berkembang mulai usia 18 bulan. Anak sudah mulai menampakkan kemampuan untuk memikirkan benda yang tidak dilihatnya.

7. Mampu berpikir antisipatif. Kemampuan ini mulai tampak pada anak usia 21 – 23 bulan. Anak tidak sekedar mengimajinasikan benda yang tidak ada di hadapannya, lebih jauh lagi dia mulai dapat mengantisipasi dampak yang akan terjadi pada hal yang dilakukannya.

8. Memahami kalimat yang terdiri dari beberapa kata. Pada usia 12 – 17 bulan, anak sudah dapat memahami kalimat yang terdiri atas rangkaian beberapa kata. Selain itu, anak juga sudah dapat mengembangkan komunikasi dengan menggunakan gerakan tubuh, tangisan dan mimik wajah. Pada usia 13 bulan, anak sudah mulai dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti “mama” atau “papa”. Pada usia 17 bulan, umumnya anak sudah dapat mengucapkan kata ganti diri dan merangkainya dengan beberapa kata sederhana dan mengutarakan pesan-pesan seperti: “ Adik mau susu.”

9. Cepat menangkap kata-kata baru. Pada usia 18 – 23 bulan, anak mengalami perkembangan yang pesat dalam mengucapkan kata-kata. Perbendaharaan kata anak-anak pada usia ini mencapai 50 kata. Selain itu, anak sudah mulai sadar bahwa setiap benda memiliki nama sehingga hal ini mendorongnya untuk melancarkan kemampuan bahasanya dan belajar kata-kata baru lebih cepat.

B. Perkembangan Kognitif Anak Usia 2 – 3 Tahun (24 – 36 Bulan)

Kemampuan kognitif anak usia 2 – 3 tahun semakin kompleks. Perkembangan anak usia 2 – 3 tahun ditandai dengan beberapa tahap kemampuan yang dapat dicapai anak, yaitu sebagai berikut :

1. Berpikir simbolik. Anak usia 2 tahunan memiliki kemampuan untuk menggunakan simbol berupa kata-kata, gambaran mental atau aksi yang mewakili sesuatu. Salah satu bentuk lain dari berpikir simbolik adalah fantasi, sesuatu yang dapat digunakan anak ketika bermain. Mendekati usia ketiga, kemampuan anak semakin kompleks, dimana anak sudah mulai menggunakan obyek subtitusi dari benda sesungguhnya. Misalnya anak menyusun bantal- bantal sehingga menyerupai mobil dan dianggapnya sebagai mobil balap.

2. Mengelompokkan, mengurut dan menghitung. Pada tahun ketiganya, anak sudah dapat mengelompokkan mainannya berdasarkan bentuk, misalnya membedakan kelompok mainan mobil-mobilan dengan boneka binatang. Selain mengelompokkan, anak juga mampu menyusun balok sesuai urutan besarnya dan mengetahui perbedaan antara satu dengan beberapa (kemampuan menghitung).

3. Meningkatnya kemampuan mengingat. Kemampuan mengingat anak akan meningkat pada usia 8 bulan hingga 3 tahun. Sekitar usia 2 tahun, anak dapat mengingat kembali kejadian-kejadian menyenangkan yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Mereka juga dapat memahami dan mengingat dua perintah sederhana yang disampaikan bersama-sama. Memasuki usia 2,5 hingga 3 tahun, anak mampu menyebutkan kembali kata-kata yang terdapat pada satu atau dua lagu pengantar tidur.

4. Berkembangnya pemahaman konsep. Ketika mencapai usia 18 bulan, anak memahami waktu untuk pertama kalinya yaitu pemahaman “sebelum” dan “sesudah”. Selanjutnya pemahaman “hari ini”. Pada usia 2,5 tahun, anak mulai memahami pengertian “besok”, disusul dengan “kemarin” dan pengertian hari-hari selama seminggu di usia 3 tahun.

5. Puncak perkembangan bicara dan bahasa. Pada usia sekitar 36 bulan, perbendaharaan kata anak dapat mencapai 1000 kata dengan 80% kata-kata tersebut dapat dipahaminya. Pada usia ini biasanya anak mulai banyak berbicara mengenai orang-orang di sekelilingnya, terutama ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya.

Referensi :
1. Bee, Helen. 1994. Lifespan Development. HarperCollins College Publisher, New York.
2. Hurlock, E.B. 1978. Child Development. Sixth Edition. McGraw-Hill. Inc. New York.
3. Papalia, Diane E. & Olds, Sally Wendkos. 1989. Human Development. McGraw-Hill Book Company.
4. Santrock, J.W. 1997. Life Span Development. Brown Benchmark Publisher, Madison.
5. Seifert, K.L. & Hoffnung, R.J. 1987. Child and Adolescent Development. Boston : Houghton Mifflin Co.
6. Turner, Jeffrey S. & Helms, Donald. 1991. Life Span Development. Holt, Rinehart and Winston, Inc. The Dryden Press.
7. Vasta, R., Haith, M M., & Miller, SA. 1992. Child Psychologi : The Modern Science. New York : John Wiley & Sons. Inc.