Tuesday, June 19, 2012

Theater for kids

Sing in theater Looking for a kids theater ticket? TicketAmerica.com have the best selection of tickets for just about any event that takes place in the United States or abroad. They also specialize in obtaining hard to find seats for smaller venues and theaters. They can plan and execute anything from a large corporate outing to a family night out. They are often used as way of rewarding a particularly good employee or business client. They can served us a ticket for Polka Theater, moore theatre tickets, arie crown theater tickets, and monty python spamalot tickets.

Theater_Guthrie_New

Friday, March 5, 2010

STRATEGI KOGNITIF (COGNITIVE STRATEGIES)

By: Melly Latifah
(March, 2010)

Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University

Belajar merupakan aktifitas mental yang cukup penting dalam pengembangan diri seseorang. Untuk mempelajari segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, termasuk informasi tekstual, setiap individu mempunyai strategi belajar tertentu. Strategi belajar ini disebut strategi kognitif.

1. Definisi Strategi Kognitif

Strategi kognitif adalah operasi-operasi atau prosedur-prosedur mental yang bisa digunakan individu untuk mendapatkan, menahan, serta mengambil kembali berbagai pengetahuan dan kepandaian (Rigney, 1978 dalam Jonassen (1987).  Strategi kognitif mencerminkan bagaimana seseorang belajar, mengingat, dan berfikir serta bagaimana memotivasi diri mereka sendiri (Weinstein dan mayer, 1985 dalam Jonassen (1987). Jonassen (1987) berkesimpulan bahwa strategi-strategi kognitif merepresentasikan kegiatan-kegiatan kognitif yang sangat luas yang mendukung pembelajaran seseorang. Dengan demikian, jelas bahwa strategi kognitif sangat penting bagi siapa pun untuk mencapai kompetensi yang baik.

2. Fungsi Strategi kognitif

Strategi kognitif dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah kaitan antara informasi yang disajikan dengan pengetahuan yang sudah ada melalui suatu pemrosesan informasi secara sadar dan sengaja (generatif) dengan tujuan meningkatkan retensinya. Dalam hal ini, Bruning (1983) dalam Jonassen (1987) berpendapat bahwa strategi kognitif memfasilitasi transfer informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.

3. Klasifikasi Strategi kognitif

Secara umum strategi kognitif dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu strategi utama dan strategi pendukung (Jonassen, 1987). Strategi utama dipakai langsung pada materi yang pelajari, yaitu merepresentasikan kegiatan-kegiatan pemrosesan informasi. Sementara itu, strategi pendukung digunakan untuk memelihara iklim belajar yang memadai.

Ada dua jenis strategi utama : strategi pemrosesan materi (informasi) dan strategi kognitif aktif. Strategi kognitif aktif meliputi sistem belajar seperti MURDER atau SQ3R. Strategi pemrosesan materi meliputi strategi-strategi kognitif semacam pembuatan catatan, mengggarisbawahi, dan uji preparasi (seperti, bertanya pada diri sendiri tentang hal yang sedang dipelajari). Bila strategi-strategi kognitif aktif mengasumsikan proses kognitif tertentu dari materi, maka strategi pemrosesan informasi mengutamakan kegiatan-kegiatan pemrosesan secara langsung.

Strategi pemrosesan informasi dikelompokkan menjadi empat.  Keempat jenis strategi pemrossan itu adalah recall, integrasi, organisasi, dan elaborasi, yang masing-masing mencakup beberapa strategi spesifik (Jonassen, 1987).

Strategi-strategi recall konsentrasinya pada praktek pengulangan. Strategi integrasi dan organisasi - disebut juga strategi recall and transformation – merupakan strategi-strategi pemrosesan yang memfasilitasi transformasi informasi ke dalam bentuk yang lebih mudah diingat. Strategi-strategi organisasi membantu dalam menstrukturisasikan dan merestrukturisasi dasar pengetahuan seseorang, yaitu melihat bagaimana ide-ide dihubungkan dengan ide-ide lainnya. Dalam strategi-strategi elaborasi, informasi dielaborasi dengan menambahkan informasi untuk membuat materi lebih menghasilkan citra-citra fisik dan mental.

Selain strategi utama yang beroperasi langsung pada informasi, individu juga selayaknya menggunakan strategi pendukung (Jonassen, 1987). Strategi-strategi pendukung dimaksudkan untuk mendukung pemrosesan informasi dengan membantu individu untuk memelihara orientasi belajar yang baik. Strategi pendukung ini meliputi strategi-strategi sistem belajar, seperti penetapan tujuan, manajemen waktu, manajemen konsentrasi, dan tehnik-tehnik relaktasi, serta strategi-strategi metalearning.

Strategi Metalearning didefinisikan sebagai kesadaran akan pengetahuan dan penggunaan pantauan terhadap sasaran-sasaran kognitif individu, pengalaman dan aksi-aksi, yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dan retensi materi pelajaran (Brezin, 1980 dalam Jonassen, 1987). Metalearning merupakan strategi pendukung yang paling penting yang berdasar pada prinsip-prinsip metamemori.

Menurut Strenberg (1983) dalam Jonassen (1987), metalearning adalah mekanisme kontrol eksekutif tingkat tinggi yang memungkinkan individu merespon situasi belajar yang berbeda dengan cara merefleksi dan menginplementasikan strategi-strategi. Kemampuan metalearning ini sangat penting bagi seseorang untuk memantau sejauh mana perkembangan belajarnya.

Dalam kaitannya dengan metalearning, Flavell dan Wellman (1977) dalam Jonassen (1987) menemukan bahwa individu yang lebih pandai, lebih cakap dalam menyeleksi dan menggunakan strategi yang sesuai untuk memonitor proses penyimpanan dan pengambilan informasi mereka. Individu yang baik tetap sadar untuk memonitor pembelajaraannya secara lebih konsisten.

Brezin (1980) dalam Jonassen (1987) mengidentifikasi lima kelompok strategi metalearning (atau bisa disebut sebagai strategi monitoring), yaitu perencanaan, attending, encoding, reviewing dan evaluasi, yang gambarannya adalah sebagai berikut:
  1. Strategi perencanaan meliputi seleksi (identifikasi sasaran belajar), persiapan (mengaktifkan skemata yang relevan), pengukuran (menentukan kesulitan atau kedalaman proses yang diperlukan), dan estimasi (memprediksi kebutuhan proses informasi dari tugas).
  2. Strategi atttending meliputi pendekatan, pencarian (menghubungkan informasi yang disajikan dengan ingatan), pengkontrasan (membandingkan informasi yang disajikan dengan ingatan), dan validasi (konfirmasi informasi yang disajikan dengan pengetahuan yang sudah ada).
  3. Strategi encoding meliputi elaborasi (mencoba mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah ada) dan menghubungkan secara kualitatif (mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah ada secara lebih dalam).
  4. Strategi review meliputi konfirmasi (pengggunaan informasi baru) pengulangan (mempraktekkan recall), dan perbaikan (revise).
  5. Strategi evaluasi mencakup pengujian (menentukan konsistensi materi baru), dan penilaian (penilaian informasi).
Dari uraian tentang taksonomi strategi kognitif tersebut, dapat disimpulkan bahwa fungsi strategi-strategi metalearning lebih kepada memonitor proses mengetahui daripada menghasilkan pemahaman. Sementara itu, strategi-strategi pemrosesan informasi lebih kepada menghasilkan pemahaman informasi.

Untuk menjadi individu yang kompeten, setiap orang harus memiliki strategi kognitif yang baik. Pressley, et al. (1983) dalam Pressley (1990) berkeyakinan bahwa kompetensi sering merupakan hasil dari penggunaan strategi yang tepat, dan bukan dikarenakan kemampuan superior pribadi atau kerja keras belaka.


Menurut Pressley (1986); Pressley, Borkowski, & Schneider (1987) dalam Pressley (1990), pengguna strategi yang baik adalah seseorang yang mempunyai suatu varitas strategi dan menggunakan prosedur-prosedur tersebut untuk mengatasi tantangan kognitif. Hal ini diperkuat oleh Pressley (1990) yang didasarkan pada hasil penelitian yang membuktikan bahwa individu yang sukses memiliki strategi kognitif yang lebih baik daripada individu yang kurang sukses.

Individu yang memiliki strategi kognitif yang baik adalah individu yang memiliki kesadaran metakognisi. Artinya, yang bersangkutan tidak hanya memiliki strategi-strategi dalam pemrosesan informasi, tetapi juga memiliki strategi-strategi metalearning. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa individu berkesadaran metakognitif lebih strategis dan bertindak lebih baik dibanding individu yang tidak berkesadaran metakognitif (Garner & Alexander, 1989; Pressley & Ghatala, 1990 dalam Schraw & Dennison, 1994). Salah satu sebabnya adalah karena kesadaran metakognitif memungkinkan seseorang untuk merencanakan, merangkai, dan memonitor belajarnya dengan cara yang langsung meningkatkan kepandaiannya. Hal ini diperkuat oleh Resnick (1989) yang menyatakan bahwa individu yang sukses cenderung mengelaborasi dan mengembangkan penjelasan dari buku atau materi lain secara mandiri serta cenderung memonitor pemahaman sendiri. Lebih jauh Schraw & Dennison (1994) menyebutkan bahwa perbedaan dalam penggunaan strategi dan kepandaian lebih berkaitan dengan perbedaan kesadaran metakognitif daripada dengan perbedaan dalam bakat intelektual.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai kompetensi yang optimal, individu harus memiliki strategi kognitif. Strategi kognitif yang selayaknya dimiliki tidak hanya strategi-strategi utama, seperti strategi-strategi pemrosesan informasi yang bekerja lebih kepada menghasilkan pemahaman informasi, tetapi juga strategi-strategi pendukung, seperti : penetapan tujuan, manajemen waktu, manajemen konsentrasi, dan tehnik-tehnik relaktasi, serta strategi-strategi metalearning, yang berfungsi memonitor proses belajar agar iklim belajar yang memadai dapat terpelihara. Semakin banyak strategi kognitif yang dimiliki atau dikuasai, semakin besar peluang seseorang untuk memiliki strategi kognitif yang baik. Selanjutnya, semakin baik strategi kognitif yang digunakan, semakin besar peluang seseorang untuk menjadi individu yang kompeten.


Sunday, November 15, 2009

Seminar 2 Hari dan Pemecahan Rekor Dunia (Guinness World Records)


Orangtua (dan calon orangtua)  dituntut untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kualitas pribadi masing-masing sehingga mampu mendampingi putra-putrinya dalam mengarungi kehidupan yang berwarna-warni.  Warna yang terkadang membuat para orangtua (dan calon orangtua) terkaget-kaget lalu kuatir akan masa depan anak-anaknya. Bagaimana putra-putri kita akan siap menghadapi kehidupan apabila kita sebagai orangtua (dan calon orangtua) sendiri kebingungan menyikapinya, bukan?.

Untuk menyiapkan mental yang lebih positif dalam menghadapi dinamika kehidupan yang beragam, ada baiknya para orangtua (dan calon orangtua) mengikuti dan menghadiri berbagai seminar yang berkaitan dengan pengembangan diri.  Salah satu kegiatan seminar yang sangat menarik akan diadakan pada tanggal 5 dan 6 Desember 2009 di dome pantai carnival Ancol, Jakarta.

Pada seminar yang akan dihadiri oleh peserta dari sedikitnya 35 negara dari lima benua tersebut juga akan diselenggarakan sebuah kegiatan yang akan dicatatkan sebagai rekor dunia.

Bagi pembaca yang ingin berpartisipasi dalam seminar dan pemecahan rekor dunia tersebut silahkan menghubungi bapak Edi Djuhaedi (hp no. 081382604400) untuk mendapatkan tiket masuknya.


Monday, March 2, 2009

Perkembangan Kognitif Anak Balita

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN KOGNITIF
ANAK USIA 1 – 3 TAHUN

Oleh : Melly Latifah
(Updated on March 2010)
Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University

A. Perkembangan Kognitif Anak Usia 1 – 2 Tahun (12 – 24 bulan)

Sewaktu lahir, berat otak anak sekitar 27% berat otak orang dewasa. Pada usia 2 tahun, berat otak anak sudah mencapai 90% dari berat otak orang dewasa (sekitar 1200 gram). Hal ini menunjukkan bahwa pada usia ini, masa perkembangan otak sangat pesat. Pertumbuhan ini memberikan implikasi terhadap kecerdasan anak.

Pada usia 1 – 2 tahun, anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada usia ini, anak mengembangkan rasa keingintahuannya melalui beberapa hal berikut ini :

1. Belajar melalui pengamatan/ mengamati. Mulai usia 13 bulan, anak sudah mulai mengamati hal-hal di sekitarnya. Banyak “keajaiban” di sekitarnya mendorong rasa ingin tahu anak. Anak kemudian melakukan hal-hal yang sering dianggap bermain, padahal anak sedang mencari tahu apa yang akan terjadi kemudian setelah anak melakukan suatu hal sebagai pemuas rasa ingin tahunya. Pada usia 19 bulan, anak sudah dapat mengamati lingkungannya lebih detail dan menyadari hal-hal yang tidak semestinya terjadi berdasarkan pengalamannya.

2. Meniru orang tua. Anak belajar dari lingkungan sekitarnya. Sekitar usia 17 bulan, anak sudah mulai mengembangkan kemampuan mengamati menjadi meniru. Hal yang ditirunya adalah hal-hal yang umumnya dilakukan orangtua. Pada usia 19 bulan, anak sudah banyak dapat meniru perilaku orangtua.

3. Belajar konsentrasi. Pada usia 14 bulan, anak sudah mengarahkan daya pikirnya terhadap suatu benda. Hal ini dapat dilihat pada ketekunan anak dengan satu mainan atau satu situasi. Kemampuan anak untuk berkonsentrasi tergantung pada keadaan atau daya tarik berbagai hal yang ada di sekelilingnya. Kemampuan anak untuk berkonsentrasi pada usia ini adalah sekitar 10 menit.

4. Mengenal anggota badan. Pada usia sekitar 15 bulan, anak sudah dapat diajarkan untuk mengucapkan kata-kata. Anak-anak akan merasa sangat senang jika orangtua mengajarkan kata-kata yang bernamakan anggota tubuhnya sambil menunjukkan anggota tubuhnya.

5. Memahami bentuk, kedalaman, ruang dan waktu. Pada tahun kedua, anak sudah memiliki kemampuan untuk memahami berbagai hal. Melalui pengamatannya, anak menemukan adanya bentuk, tinggi atau rendah benda (kedalaman) dan membedakan kesempatan berdasarkan tempat (ruang ) dan waktu. Pemahaman ini mulai tampak pada usia 18 – 24 bulan.

6. Mulai mampu berimajinasi. Kemampuan berimajinasi atau membentuk citra abstrak berkembang mulai usia 18 bulan. Anak sudah mulai menampakkan kemampuan untuk memikirkan benda yang tidak dilihatnya.

7. Mampu berpikir antisipatif. Kemampuan ini mulai tampak pada anak usia 21 – 23 bulan. Anak tidak sekedar mengimajinasikan benda yang tidak ada di hadapannya, lebih jauh lagi dia mulai dapat mengantisipasi dampak yang akan terjadi pada hal yang dilakukannya.

8. Memahami kalimat yang terdiri dari beberapa kata. Pada usia 12 – 17 bulan, anak sudah dapat memahami kalimat yang terdiri atas rangkaian beberapa kata. Selain itu, anak juga sudah dapat mengembangkan komunikasi dengan menggunakan gerakan tubuh, tangisan dan mimik wajah. Pada usia 13 bulan, anak sudah mulai dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti “mama” atau “papa”. Pada usia 17 bulan, umumnya anak sudah dapat mengucapkan kata ganti diri dan merangkainya dengan beberapa kata sederhana dan mengutarakan pesan-pesan seperti: “ Adik mau susu.”

9. Cepat menangkap kata-kata baru. Pada usia 18 – 23 bulan, anak mengalami perkembangan yang pesat dalam mengucapkan kata-kata. Perbendaharaan kata anak-anak pada usia ini mencapai 50 kata. Selain itu, anak sudah mulai sadar bahwa setiap benda memiliki nama sehingga hal ini mendorongnya untuk melancarkan kemampuan bahasanya dan belajar kata-kata baru lebih cepat.

B. Perkembangan Kognitif Anak Usia 2 – 3 Tahun (24 – 36 Bulan)

Kemampuan kognitif anak usia 2 – 3 tahun semakin kompleks. Perkembangan anak usia 2 – 3 tahun ditandai dengan beberapa tahap kemampuan yang dapat dicapai anak, yaitu sebagai berikut :

1. Berpikir simbolik. Anak usia 2 tahunan memiliki kemampuan untuk menggunakan simbol berupa kata-kata, gambaran mental atau aksi yang mewakili sesuatu. Salah satu bentuk lain dari berpikir simbolik adalah fantasi, sesuatu yang dapat digunakan anak ketika bermain. Mendekati usia ketiga, kemampuan anak semakin kompleks, dimana anak sudah mulai menggunakan obyek subtitusi dari benda sesungguhnya. Misalnya anak menyusun bantal- bantal sehingga menyerupai mobil dan dianggapnya sebagai mobil balap.

2. Mengelompokkan, mengurut dan menghitung. Pada tahun ketiganya, anak sudah dapat mengelompokkan mainannya berdasarkan bentuk, misalnya membedakan kelompok mainan mobil-mobilan dengan boneka binatang. Selain mengelompokkan, anak juga mampu menyusun balok sesuai urutan besarnya dan mengetahui perbedaan antara satu dengan beberapa (kemampuan menghitung).

3. Meningkatnya kemampuan mengingat. Kemampuan mengingat anak akan meningkat pada usia 8 bulan hingga 3 tahun. Sekitar usia 2 tahun, anak dapat mengingat kembali kejadian-kejadian menyenangkan yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Mereka juga dapat memahami dan mengingat dua perintah sederhana yang disampaikan bersama-sama. Memasuki usia 2,5 hingga 3 tahun, anak mampu menyebutkan kembali kata-kata yang terdapat pada satu atau dua lagu pengantar tidur.

4. Berkembangnya pemahaman konsep. Ketika mencapai usia 18 bulan, anak memahami waktu untuk pertama kalinya yaitu pemahaman “sebelum” dan “sesudah”. Selanjutnya pemahaman “hari ini”. Pada usia 2,5 tahun, anak mulai memahami pengertian “besok”, disusul dengan “kemarin” dan pengertian hari-hari selama seminggu di usia 3 tahun.

5. Puncak perkembangan bicara dan bahasa. Pada usia sekitar 36 bulan, perbendaharaan kata anak dapat mencapai 1000 kata dengan 80% kata-kata tersebut dapat dipahaminya. Pada usia ini biasanya anak mulai banyak berbicara mengenai orang-orang di sekelilingnya, terutama ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya.

Referensi :
1. Bee, Helen. 1994. Lifespan Development. HarperCollins College Publisher, New York.
2. Hurlock, E.B. 1978. Child Development. Sixth Edition. McGraw-Hill. Inc. New York.
3. Papalia, Diane E. & Olds, Sally Wendkos. 1989. Human Development. McGraw-Hill Book Company.
4. Santrock, J.W. 1997. Life Span Development. Brown Benchmark Publisher, Madison.
5. Seifert, K.L. & Hoffnung, R.J. 1987. Child and Adolescent Development. Boston : Houghton Mifflin Co.
6. Turner, Jeffrey S. & Helms, Donald. 1991. Life Span Development. Holt, Rinehart and Winston, Inc. The Dryden Press.
7. Vasta, R., Haith, M M., & Miller, SA. 1992. Child Psychologi : The Modern Science. New York : John Wiley & Sons. Inc.


Monday, May 26, 2008

Perkembangan Kognitif Remaja

PERKEMBANGAN KOGNITIF REMAJA

oleh : Melly Latifah (Mei, 2008)


1. Tahap Perkembangan Kognitif Remaja

Perkembangan kognitif remaja membahas tentang perkembangan remaja dalam berfikir (proses kognisi/proses mengetahui ). Menurut J.J. Piaget, remaja berada pada tahap operasi formal, yaitu tahap berfikir yang dicirikan dengan kemampuan berfikir secara hipotetis, logis, abstrak, dan ilmiah. Pada usia remaja, operasi-operasi berpikir tidak lagi terbatas pada obyek-obyek konkrit seperti usia sebelumnya, tetapi dapat pula dilakukan pada proposisi verbal (yang bersifat abstrak) dan kondisi hipotetik (yang bersifat abstrak dan logis).

2. Kemampuan Kognitif Remaja

Berbagai penelitian selama dua puluh tahun terakhir dengan menggunakan berbagai pandangan teori juga menemukan gambaran yang konsisten dengan teori Piaget yang menyimpulkan bahwa remaja merupakan suatu periode dimana seseorang mulai berfikir secara abstrak dan logik (Carlson, Derry, Fouad, Jacobs, Krieg, & Peterson, 1999). Berbagai penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang konsisten antara kemampuan kognitif anak-anak dan remaja. Dibandingkan anak-anak, remaja memiliki kemampuan lebih baik dalam berfikir hipotetis dan logis. Remaja juga lebih mampu memikirkan beberapa hal sekaligus - bukan hanya satu - dalam satu saat dan konsep-konsep abstrak (Keating, dalam Carlson, dkk., 1999). Menurut Nettle (2001), remaja juga dapat berfikir tentang proses berfikirnya sendiri, serta dapat memikirkan hal-hal yang tidak nyata - sebagaimana hal-hal yang nyata - untuk menyusun hipotesa atau dugaan.

3. Faktor Perkembangan Kognitif Remaja

Menurut pandangan teori pemrosesan informasi, kemampuan berfikir pada usia remaja disebabkan oleh meningkatnya ketersediaan sumberdaya kognitif (cognitive resource). Peningkatan ini disebabkan oleh automaticity atau kecepatan pemrosesan (Case; Keating & MacLean; dalam Carlson, dkk. 1999); pengetahuan lintas bidang yang makin luas (Case, dalam Carlson, dkk. 1999); meningkatnya kemampuan dalam menggabungkan informasi abstrak dan menggunakan argumen-argumen logis (Moshman & Frank, dalam Carlson, dkk., 1999); serta makin banyaknya strategi yang dimiliki dalam mendapatkan dan menggunakan informasi (Carlson, dkk., 1999).

Walaupun cara berfikir kelompok remaja (usia 11 tahun ke atas) berbeda dengan anak usia 7 – 11 tahun, akan tetapi bila ditelaah lebih jauh, di antara para remaja sendiri sering ditemukan perbedaan (Seifert dan Hoffnung, 1987). Perbedaan tersebut, menururt Torgesen (dalam Collins, dkk., 2001), terjadi antara lain karena faktor penggunaan strategi kognitif yang dimiliki oleh masing-masing individu.


Perkembangan Kognitif Remaja

PERKEMBANGAN KOGNITIF REMAJA

By: Melly Latifah

(Updated Maret 2010)
Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University

1. Tahap Perkembangan Kognitif Remaja

Perkembangan kognitif remaja membahas tentang perkembangan remaja dalam berfikir (proses kognisi/proses mengetahui ). Menurut J.J. Piaget, remaja berada pada tahap operasi formal, yaitu tahap berfikir yang dicirikan dengan kemampuan berfikir secara hipotetis, logis, abstrak, dan ilmiah. Pada usia remaja, operasi-operasi berpikir tidak lagi terbatas pada obyek-obyek konkrit seperti usia sebelumnya, tetapi dapat pula dilakukan pada proposisi verbal (yang bersifat abstrak) dan kondisi hipotetik (yang bersifat abstrak dan logis).

2. Kemampuan Kognitif Remaja

Berbagai penelitian selama dua puluh tahun terakhir dengan menggunakan berbagai pandangan teori juga menemukan gambaran yang konsisten dengan teori Piaget yang menyimpulkan bahwa remaja merupakan suatu periode dimana seseorang mulai berfikir secara abstrak dan logik (Carlson, Derry, Fouad, Jacobs, Krieg, & Peterson, 1999). Kemampuan ini berbeda dengan kemampuan berfikir usia sebelumnya (usia sekolah).

Berbagai penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang konsisten antara kemampuan kognitif anak-anak dan remaja. Dibandingkan anak-anak, remaja memiliki kemampuan lebih baik dalam berfikir hipotetis dan logis. Remaja juga lebih mampu memikirkan beberapa hal sekaligus - bukan hanya satu - dalam satu saat dan konsep-konsep abstrak (Keating, dalam Carlson, dkk., 1999). Menurut Nettle (2001), remaja juga dapat berfikir tentang proses berfikirnya sendiri, serta dapat memikirkan hal-hal yang tidak nyata - sebagaimana hal-hal yang nyata - untuk menyusun hipotesa atau dugaan.

3. Faktor Perkembangan Kognitif Remaja

Menurut pandangan teori pemrosesan informasi, kemampuan berfikir pada usia remaja disebabkan oleh meningkatnya ketersediaan sumberdaya kognitif (cognitive resource). Peningkatan ini disebabkan oleh automaticity atau kecepatan pemrosesan (Case; Keating & MacLean; dalam Carlson, dkk. 1999); pengetahuan lintas bidang yang makin luas (Case, dalam Carlson, dkk. 1999); meningkatnya kemampuan dalam menggabungkan informasi abstrak dan menggunakan argumen-argumen logis (Moshman & Frank, dalam Carlson, dkk., 1999); serta makin banyaknya strategi yang dimiliki dalam mendapatkan dan menggunakan informasi (Carlson, dkk., 1999).

Walaupun cara berfikir kelompok remaja (usia 11 tahun ke atas) berbeda dengan anak usia 7 – 11 tahun, akan tetapi bila ditelaah lebih jauh, di antara para remaja sendiri sering ditemukan perbedaan (Seifert dan Hoffnung, 1987). Perbedaan tersebut, menururt Torgesen (dalam Collins, dkk., 2001), terjadi antara lain karena faktor penggunaan strategi kognitif yang dimiliki oleh masing-masing individu.


Pertumbuhan Fisik & Kesehatan Remaja

PERTUMBUHAN FISIK & KESEHATAN REMAJA

By: Melly Latifah
(Updated on March 2008)
Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University


1.Definisi Remaja

Remaja didefinisikan sebagai tahap perkembangan transisi yang membawa individu dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang ditandai dengan perubahan fisik karena pubertas serta perubahan kognitif dan sosial. Menurut Seifert dan Hoffnung (1987), periode ini umumnya dimulai sekitar usia 12 tahun hingga akhir masa pertumbuhan fisik, yaitu sekitar usia 20 tahun.

2.Pandangan Teoritis tentang Remaja

Ada dua pandangan teoritis tentang remaja. Menurut pandangan teoritis pertama – yang dicetuskan oleh psikolog G. Stanley Hall – : adolescence is a time of “storm and stress “. Artinya, remaja adalah masa yang penuh dengan “badai dan tekanan jiwa”, yaitu masa di mana terjadi perubahan besar secara fisik, intelektual dan emosional pada seseorang yang menyebabkan kesedihan dan kebimbangan (konflik) pada yang bersangkutan, serta menimbulkan konflik dengan lingkungannya (Seifert & Hoffnung, 1987). Dalam hal ini, Sigmund Freud dan Erik Erikson meyakini bahwa perkembangan di masa remaja penuh dengan konflik. Keyakinan ini tercermin dari teori mereka tentang perkembangan manusia.

Menurut pandangan teoritis kedua, masa remaja bukanlah masa yang penuh dengan konflik seperti yang digambarkan oleh pandangan yang pertama. Banyak remaja yang mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya, serta mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan kebutuhan dan harapan dari orang tua dan masyarakatnya.

Bila dikaji, kedua pandangan tersebut ada benarnya, namun sangat sedikit remaja yang mengalami kondisi yang benar-benar ekstrim seperti kedua pandangan tersebut (selalu penuh konflik atau selalu dapat beradaptasi dengan baik). Kebanyakan remaja mengalami kedua situasi tersebut (penuh konflik atau dapat beradaptasi dengan mulus) secara bergantian (fluktuatif).

3.Pertumbuhan Fisik Remaja

Seseorang akan mengalami pertumbuhan fisik (tinggi dan berat badan) yang sangat pesat pada usia remaja yang dikenal dengan istilah growth spurt. Growth spurt merupakan tahap pertama dari serangkaian perubahan yang membawa seseorang kepada kematangan fisik dan seksual.

Pada usia 12 tahun, tinggi badan rata-rata remaja putra USA sekitar 150, sementara remaja putri sekitar 154 cm. Pada usia 18 tahun, tinggi rata-rata remaja putra USA sekitar 177 cm, sedangkan remaja putri hanya 163 cm. Kekepatan pertumbuhan tertinggi pada remaja putri terjadi sekitar usia 11 – 12 tahun, sementara pada remaja putra, dua tahun lebih lambat. Pada masa pertumbuhan maksimum ini, remaja putri bertambah tinggi badannya sekitar 3 inci, sementara remaja putra bertambah lebih dari 4 inci per tahunnya (Marshall, dalam Seifert & Hoffnung, 1987).

Seperti halnya tinggi badan, pertumbuhan berat badan juga meningkat pada usia remaja. Pertumbuhan berat badan ini lebih sulit diprediksi daripada tinggi badan, dan lebih mudah dipengaruhi oleh diet, latihan fisik, dan pola hidup.
Pada usia remaja, tubuh remaja putri lebih berlemak daripada remaja putra. Selama masa pubertas, lemak tubuh remaja putra menurun dari sekitar 18 – 19 % menjadi 11 % dari bobot tubuh. Sementara pada remaja putri, justru meningkat dari sekitar 21 % menjadi sekitar 26 – 27 % (Sinclair, dalam Seifert & Hoffnung, 1987).

Saat ini, remaja mengalami perubahan fisik (dalam tinggi dan berat badan) lebih awal dan cepat berakhir daripada orang tuanya. Kecenderungan ini disebut trend secular. Sebagai contoh, seratus tahun yang lalu, remaja USA dan Eropa Barat mulai menstruasi sekitar usia 15 – 17 tahun, sekarang sekitar 12 – 14 tahun. Di tahun 1880, laki-laki mencapai tinggi badan sepenuhnya pada usia 23 – 24 tahun dan perempuan pada usia 19 – 20 tahun, sekarang laki-laki mencapai tinggi maksimum pada usia 18 – 20 dan perempuan pada usia 13 – 14 tahun.

Trend secular terjadi sebagai akibat dari meningkatnya faktor kesehatan dan gizi, serta kondisi hidup yang lebih baik. Sebagai contoh, meningkatnya tingkat kecukupan gizi dan perawatan kesehatan, serta menurunnya angka kesakitan (morbiditas) di usia bayi dan kanak-kanak.

4.Pubertas

Pubertas adalah periode pada masa remaja awal yang dicirikan dengan perkembangan kematangan fisik dan seksual sepenuhnya (Seifert & Hoffnung, 1987). Pubertas ditandai dengan terjadinya perubahan pada ciri-ciri seks primer dan sekunder.

Ciri-ciri seks primer memungkinkan terjadinyanya reproduksi. Pada wanita, ciri-ciri ini meliputi perubahan pada vagina, uterus, tube fallopi, dan ovari. Perubahan ini ditandai dengan munculnya menstruasi pertama. Pada pria, ciri-ciri ini meliputi perubahan pada penis, scrotum, testes, prostate gland, dan seminal vesicles. Perubahan ini menyebabkan produksi sperma yang cukup sehingga mampu untuk bereproduksi, dan perubahan ini ditandai dengan keluarnya sperma untuk pertama kali (biasanya melalui wet dream).

Ciri-ciri seks sekunder meliputi perubahan pada buah dada, pertumbuhan bulu-bulu pada bagian tertentu tubuh, serta makin dalamnya suara. Perubahan ini erat kaitannya dengan perubahan hormonal. Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin, kemudian dilepaskan melalui aliran darah menuju berbagai organ tubuh.

Kelenjar seks wanita (ovaries) dan pria (testes) mengandung sedikit hormon. Hormon ini berperan penting dalam pematangan seksual. Kelenjar pituitary (yang berada di dalam otak) merangsang testes dan ovaries untuk memproduksi hormon yang dibutuhkan. Proses ini diatur oleh hypothalamus yang berada di atas batang otak.

5.Dampak Pertumbuhan Fisik terhadap Kondisi Psikologis Remaja

Pertumbuhan fisik yang sangat pesat pada masa remaja awal ternyata berdampak pada kondisi psikologis remaja, baik putri maupun putra. Canggung, malu, kecewa, dll. adalah perasaan yang umumnya muncul pada saat itu.

Hampir semua remaja memperhatikan perubahan pada tubuh serta penampilannya. Perubahan fisik dan perhatian remaja berpengaruh pada citra jasmani (body image) dan kepercayaan dirinya (self-esteem).

Ada tiga jenis bangun tubuh yang menggambarkan tentang citra jasmani, yaitu endomorfik, mesomorfik dan ektomorfik. Endomorfik banyak lemak sedikit otot (padded). Ektomorfik sedikit lemak sedikit otot (slender). Mesomorfik sedikit lemak banyak otot (muscular).

6.Masalah Kesehatan pada Remaja

Remaja merupakan usia paling sehat dibanding kanak-kanak dan dewasa karena sedikitnya penyakit yang dialami kelompok usia ini. Akan tetapi, remaja memiliki resiko kesehatan paling tinggi karena faktor kecelakaan, alkohol, narkoba, hamil diluar nikah, kebiasaan makan (diet) dan perilaku hidup sehat yang buruk

Referensi :
Seifert, K.L. & Hoffnung, R.J. (1987). Child and Adolescent Development. Boston : Houghton Mifflin Co.