Wednesday, May 14, 2014
Permission to Parent: How to Raise Your Child with Love and Limits
Thursday, August 22, 2013
One by One cadence words
two by two the nazis came through on the mountain...
3 by 3 we shot at their knees on the mountain...
4 by 4 we shot them some more on the mountain...
5 by 5 some still were alive on the mountain...
6 by 6 we beat them with sticks on the mountain...
7 by 7 we sent them to heaven on the mountain...
8 by 8 the killin was great on the mountain...
9 by 9 the killin was fine on the mountain...
10 by 10 we started again on the mountain...
on the mountain... in my answer means that it is followed by "on the mountain all day, and all though the night hey hey". I just didn't want to type that each time.
Source(s):
A Sea Cadet
One - By - One Wilco Lyrics
One - by - one - my - words - come - falling - on - the - page
One - by - one - my - dreams - are - fading - in - the - twilight
One - by - one - my - schemes - are - fading - fast - away
One - by - one - the - flowers - fading - in - my - garden
One - by - one - the - leaves - are - falling - from - the - trees
One - by - one - my - hopes - are - vanished - in - the - clouds - clear
One - by - one - like - snowflakes - melting - in - the - breeze
One - by - one - my - hair - is - turning - gray
One - by - one - my - dreams - are - fading - fast - away
One - by - one - I - read - your - letters - over
One - by - one - I - lay - them - all - away
One - by - one - the - days - are - slipping - up - behind - you
One - by - one - the - sweetest - days - of - life - go - by
One - by - one - the - moments - stealing - out - behind - you
One - by - one - she'll - come - and - find - not - you - or - I
One - by - one - I - hear - the - soft - words - that - you - whispered
One - by - one - I - feel - your - kisses - soft - and - sweet
One - by - one - I - hope - you'll - say - the - words - to - marry
One - by - one - to - one - by - one - forever - be
One By One Enya Lyrics
Here - am - I
Yet - another - goodbye!
He - says - Adios, - says - Adios,
And - do - you - know - why
She - won't - break - down - and - cry?
- - she - says - Adios, - says - Adios, - Goodbye.
One - by - one - my - leaves - fall.
One - by - one - my - tales - are - told.
It's - no - lie
She - is - yearning - to - fly.
She - says - Adios, - says - Adios,
And - now - you - know - why
He's - a - reason - to - sigh
- - she - says - Adios, - says - Adios, - Goodbye.
- - she - says - Adios, - says - Adios, - Goodbye.
One - by - one - my - leaves - fall.
One - by - one - my - tales - are - told.
My, - oh - my!
She - was - aiming - too - high.
He - says - Adios, - says - Adios,
And - now - you - know - why
There's - no - moon - in - her - sky
- - he - says - Adios, - says - Adios, - Goodbye.
No - Goodbyes
For - love - brightens - their - eyes.
Don't - say - Adios, - say - Adios,
And - do - you - know - why
There's - a - love - that - won't - die?
- - don't - say - Adios, - say - Adios, - Goodbye.
- - don't - say - Adios, - say - Adios, - Goodbye.
- - don't - say - Adios, - say - Adios, - Goodbye.
Wednesday, August 21, 2013
One By One All Day Lyrics
"Howdy... - lem," - my - grandfather - said - with - his - eyes - closed"
"Wiping - the - eastbound - dust - from - his - sunburned - brow"
"A - life - before - doubt."
"I - smell - the - engine - grease - and - mint - the - wind - is - blending"
"Under - the - moan - of - rotting - elm - in - the - silo - floor."
"Down - a - hill - of - pine - tree - quills - we - made - our - way"
"To - the - bottom - and - the - ferns - where - thick - moss - grows"
"Beside - a - stream."
"Under - the - rocks - are - snails - and - we - can - fills - our - pockets"
"And - let - them - go - one - by - one - all - day - in - a - brand - new - place."
"You - were - no - ordinary - drain - on - her - defenses"
"And - she - was - no - ordinary - girl"
"Oh... - Inverted - World"
"If - every - moment - of - our - lives"
"Were - cradled - softly - in - the - hands - of - some - strange - and - gentle - child"
"I'd - not - roll - my - eyes - so."
One by One Mascara
one by one mascara picture and prices
Yves Saint Laurent YvesSaintLaurent Volume Effet Faux Cils estimated prices $30.00
Yves Saint Laurent Luxurious Mascara estimated prices for $30.00
Yves Saint Laurent Luxurious Mascara for $30.00
Cover Girl CoverGirl Professional Mascara, estimated prices $4.24 - $6.01
Cover Girl CoverGirl Professional Mascara estimated prices $4.24 - $8.82
Maybelline Volum'Express One By One Mascara, estimated prices $5.49 - $5.94
MAC Cosmetics MAC 'Zoom Fast Black Lash' Mascara $25.95
Revlon Almay Get Up & Grow Mascara, Waterproof $6.97
MAC Cosmetics MAC Zoom Lash Zoomblack $25.00
MAC Cosmetics MAC 'Prep + Prime' Future Length $30.00 - $35.00
One By One Lyrics
One by one which is sung by Laza Morgan. You can see the lyrics below. lyrics one by one is made in the form of an image, click the image to enlarge. One by one is very famous in my town, a lot of young love this song. you love this song as well? Lets take the picture below and find it mp3 download on the official website.
Monday, October 1, 2012
MENCEGAH PENCULIKAN ANAK
Beberapa tahun terakhir ini, penculikan anak-anak makin marak terjadi. Banyak motif yang melatarbelakangi tindakan tersebut, di antaranya adalah masalah ekonomi (seperti pemerasan dan jual beli anak), keinginan seksual, dendam pribadi terhadap orangtua si anak, dll. Dalam hal ini, orangtua dan anak perlu selalu waspada agar terhindar dari penculikan.
Banyak cara yang dilakukan oleh penculik untuk mendapatkan anak yang ingin diculiknya. Modus yang paling sering dilakukan adalah merayu anak dengan diiming-imingi permen, coklat, mainan, bahkan diajak ke tempat hiburan. Modus baru yang dilakukan adalah menjebak orangtua dengan lomba balita, mengaku saudara dengan mengelabui perawat di rumah sakit.
Apa yang harus orang tua lakukan untuk mengatisipasi atau mencegah terjadinya penculikan anak? Berikut beberapa tips bagi orang tua:
- Waspada Waspada terhadap karyawan-karyawan Anda. Pastikan pula orang rumah (sopir, pembantu atau mantan pembantu, mantan sopir) bukan berasal dari kalangan orang yang memiliki sifat jahat. Karena itu, sebelum Anda merekrut mereka menjadi karyawan, teliti baik-baik latar belakangnya. Karena tidak sedikit para penculik sengaja menggunakan pembantu yang disalurkan sebagai perantara untuk memuluskan rencananya. Atau, bisa jadi calon karyawan yang Anda rekrut sudah tahu pasti situasi rumah Anda. Ini akan lebih berbahaya lagi.
- Jangan Beri Kesempatan Ini penting buat Anda yang jarang di rumah. Waktu Anda sedang di kantor atau di tempat lain, biasanya hal ini akan menjadi waktu kemenangan bagi para karyawan karena tidak terpantau. Oleh karena itu, jangan beri kesempatan pada karyawan untuk terlalu sering membiarkan orang lain datang ke rumah Anda. Terutama orang-orang yang hanya sekedar iseng ingin menemui atau berbincang-bincang dengan karyawan Anda.
- Jangan Memancing Meskipun mampu, sebaiknya anak Anda tidak perlu mengenakan perhiasan yang menyolok atau membawa barang-barang mahal lainnya. Jangan biarkan anak mengenakan perhiasan berharga (kalung, gelang, anting), atau membawa barang berharga secara terbuka (membuka-buka HP di tempat umum). Hal ini bisa memicu terjadinya penculikan.
- Komunikasi Sesibuk apapun Anda, sempatkan untuk tetap berkomunikasi dengan anak. Paling tidak untuk mengetahui keadaan dan lokasi keberadaan anak Anda. Begitu pula dengan pihak sekolah. Di sekolah, orangtua harus tahu persis jam belajar sekolah dan dengan siapa anak berangkat dan pulang sekolah. Beri tahu pihak sekolah orang yang sudah Anda percaya untuk mengantar dan menjemput anak Anda.
- Pastikan Sekolah Bertanggungjawab Anda perlu memastikan pihak sekolah agar bersikap tegas dan bertanggungjawab terhadap anak didiknya selama berada di sekolah. Termasuk memperhatikan orang yang biasa mengantar jemput anak-anak. Jika ada penjemput yang baru, sebaiknya pihak sekolah atau guru terlebih dulu menghubungi orangtua anak yang bersangkutan.
- Tanggap Terhadap Bahaya Penculikan Bila penculikan benar-benar terjadi, Anda harus mengetahui apa yang harus Anda lakukan. Pertama, berani melaporkan penculikan tersebut pada pihak kepolisian meski ada ancaman dari pihak penculik. Anda bisa melaporkannya secara berlebihan bila pelaku belum tertangkap karena justru akan membahayakan nasib korban.
- Ajari dan Ingatkan Anak Anda Ajari anak Anda kiat-kiat mengantisipasi dan menghindari aksi penculikan.
Selanjutnya, sering-seringlah mengingatkan kepada anak apa yang telah Anda ajarkan itu. Mengajari anak bagaimana menghindari penculikan merupakan hal yang paling penting untuk dilakukan para orang tua. Hal ini mengingat anak tidak selalu berada dekat dengan orang tua. Tujuannya adalah agar anak secara mandiri dapat mengantisipasi atau menghindari aksi penculikan.
Berikut adalah hal-hal yang harus diajarkan kepada anak Anda agar terhindar dari penculikan (dikutip dari eHow, Selasa (27/10/2009 dalam health.detik.com):
- Menggunakan pengalaman sehari-hari untuk mengajarkan anak mengenai keamanan dirinya sendiri. Katakan pada anak agar jangan mau pergi dengan orang yang belum dikenal di manapun, meskipun orang tersebut terlihat baik atau ramah serta menjanjikan sesuatu. Dan jika anak merasa tidak aman, ajarkan untuk pergi ke restoran, pos polisi terdekat atau tempat umum lainnya untuk meminta pertolongan.
- Memberitahu anak agar selalu menjaga jarak dengan orang asing dan sebaiknya segera lari atau berteriak jika orang asing tersebut semakin mendekat.
- Beritahu anak agar selalu berjalan atau bermain bersama teman-temannya dan jangan pergi sendirian.
- Memberitahu anak batasan mengenai sikap yang boleh atau tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya. Seperti tidak boleh memegang bagian tubuh si anak, sehingga anak akan berusaha untuk menghindar jika ada orang lain yang ingin menyentuhnya. Jika orang tersebut tetap memaksa, beri tahu anak agar segera menghindar atau berlari.
- Menggunakan pengalaman orang lain atau teman dalam mengajarkan anak, karena anak akan lebih mudah mengingat sebuah cerita. Setelah itu beritahu anak hal apa yang harus dilakukannya jika berada pada situasi seperti itu.
- Ajarkan anak agar tidak menerima atau mengonsumsi apapun yang diberikan oleh orang lain. Beritahu anak bagaimana menolak yang sopan, jika anak terpaksa menerima sebaiknya jangan langsung dikonsumsi.
- Beritahu anak mengenai nama orangtua dan nomor telepon yang bisa dihubungi, hal ini berguna jika anak dalam masalah dan ingin meminta pertolongan. Serta ajarkan anak-anak untuk mempercayai apa kata nalurinya, jika anak merasakan sesuatu yang aneh maka segera melarikan diri.
Selain itu diperlukan pula perhatian dari orangtua terhadap keselamatan anaknya di tempat umum atau sekolah agar terhindar dari penculikan, seperti berikut:
- Jika jarak sekolah dan rumah cukup jauh, maka anak bisa diantar jemput. Beritahu anak agar jangan mau pulang dengan orang asing atau orang tidak biasa menjemputnya. Orangtua juga bisa berpesan pada gurunya agar menemani sang anak sampai dirinya atau orang yang sudah dikenal menjemputnya.
- Jika pergi ke mal yang ramai pengunjungnya, sebaiknya orangtua tetap menggenggam tangan sang anak dan jangan sampai terlepas. Namun, jika anak masih kecil tidak ada salahnya untuk menggendongnya.
- Jangan meninggalkan anak sendirian di manapun dan kapanpun, termasuk saat anak ingin ke kamar mandi di mal atau tempat umum lainnya.
- Saat anak bermain di tempat bermain umum, dampingi selalu anak di sampingnya. Jika tidak bisa masuk ke dalam, jangan melepaskan pandangan mata atau pengawasan dari sang anak.
- Saat anak berada di rumah, pastikan pintu dan jendela tertutup dan terkunci agar anak tidak keluar rumah.
- Jangan biarkan anak mengangkat telepon atau membukakan pintu, karena hal ini sangat berisiko. Penculik saat ini sangat berani dan hanya butuh waktu beberapa menit untuk membawa kabur sang anak.
Sumber :
Tuesday, June 19, 2012
Theater for kids
Friday, March 5, 2010
STRATEGI KOGNITIF (COGNITIVE STRATEGIES)
(March, 2010)
Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University
- Strategi perencanaan meliputi seleksi (identifikasi sasaran belajar), persiapan (mengaktifkan skemata yang relevan), pengukuran (menentukan kesulitan atau kedalaman proses yang diperlukan), dan estimasi (memprediksi kebutuhan proses informasi dari tugas).
- Strategi atttending meliputi pendekatan, pencarian (menghubungkan informasi yang disajikan dengan ingatan), pengkontrasan (membandingkan informasi yang disajikan dengan ingatan), dan validasi (konfirmasi informasi yang disajikan dengan pengetahuan yang sudah ada).
- Strategi encoding meliputi elaborasi (mencoba mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah ada) dan menghubungkan secara kualitatif (mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah ada secara lebih dalam).
- Strategi review meliputi konfirmasi (pengggunaan informasi baru) pengulangan (mempraktekkan recall), dan perbaikan (revise).
- Strategi evaluasi mencakup pengujian (menentukan konsistensi materi baru), dan penilaian (penilaian informasi).
Sunday, November 15, 2009
Seminar 2 Hari dan Pemecahan Rekor Dunia (Guinness World Records)
Orangtua (dan calon orangtua) dituntut untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kualitas pribadi masing-masing sehingga mampu mendampingi putra-putrinya dalam mengarungi kehidupan yang berwarna-warni. Warna yang terkadang membuat para orangtua (dan calon orangtua) terkaget-kaget lalu kuatir akan masa depan anak-anaknya. Bagaimana putra-putri kita akan siap menghadapi kehidupan apabila kita sebagai orangtua (dan calon orangtua) sendiri kebingungan menyikapinya, bukan?.
Monday, March 2, 2009
Perkembangan Kognitif Anak Balita
ANAK USIA 1 – 3 TAHUN
Monday, May 26, 2008
Perkembangan Kognitif Remaja
oleh : Melly Latifah (Mei, 2008)
1. Tahap Perkembangan Kognitif Remaja
Perkembangan kognitif remaja membahas tentang perkembangan remaja dalam berfikir (proses kognisi/proses mengetahui ). Menurut J.J. Piaget, remaja berada pada tahap operasi formal, yaitu tahap berfikir yang dicirikan dengan kemampuan berfikir secara hipotetis, logis, abstrak, dan ilmiah. Pada usia remaja, operasi-operasi berpikir tidak lagi terbatas pada obyek-obyek konkrit seperti usia sebelumnya, tetapi dapat pula dilakukan pada proposisi verbal (yang bersifat abstrak) dan kondisi hipotetik (yang bersifat abstrak dan logis).
2. Kemampuan Kognitif Remaja
Berbagai penelitian selama dua puluh tahun terakhir dengan menggunakan berbagai pandangan teori juga menemukan gambaran yang konsisten dengan teori Piaget yang menyimpulkan bahwa remaja merupakan suatu periode dimana seseorang mulai berfikir secara abstrak dan logik (Carlson, Derry, Fouad, Jacobs, Krieg, & Peterson, 1999). Berbagai penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang konsisten antara kemampuan kognitif anak-anak dan remaja. Dibandingkan anak-anak, remaja memiliki kemampuan lebih baik dalam berfikir hipotetis dan logis. Remaja juga lebih mampu memikirkan beberapa hal sekaligus - bukan hanya satu - dalam satu saat dan konsep-konsep abstrak (Keating, dalam Carlson, dkk., 1999). Menurut Nettle (2001), remaja juga dapat berfikir tentang proses berfikirnya sendiri, serta dapat memikirkan hal-hal yang tidak nyata - sebagaimana hal-hal yang nyata - untuk menyusun hipotesa atau dugaan.
3. Faktor Perkembangan Kognitif Remaja
Menurut pandangan teori pemrosesan informasi, kemampuan berfikir pada usia remaja disebabkan oleh meningkatnya ketersediaan sumberdaya kognitif (cognitive resource). Peningkatan ini disebabkan oleh automaticity atau kecepatan pemrosesan (Case; Keating & MacLean; dalam Carlson, dkk. 1999); pengetahuan lintas bidang yang makin luas (Case, dalam Carlson, dkk. 1999); meningkatnya kemampuan dalam menggabungkan informasi abstrak dan menggunakan argumen-argumen logis (Moshman & Frank, dalam Carlson, dkk., 1999); serta makin banyaknya strategi yang dimiliki dalam mendapatkan dan menggunakan informasi (Carlson, dkk., 1999).
Walaupun cara berfikir kelompok remaja (usia 11 tahun ke atas) berbeda dengan anak usia 7 – 11 tahun, akan tetapi bila ditelaah lebih jauh, di antara para remaja sendiri sering ditemukan perbedaan (Seifert dan Hoffnung, 1987). Perbedaan tersebut, menururt Torgesen (dalam Collins, dkk., 2001), terjadi antara lain karena faktor penggunaan strategi kognitif yang dimiliki oleh masing-masing individu.
Perkembangan Kognitif Remaja
Pertumbuhan Fisik & Kesehatan Remaja
By: Melly Latifah
(Updated on March 2008)
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University
1.Definisi Remaja
Remaja didefinisikan sebagai tahap perkembangan transisi yang membawa individu dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang ditandai dengan perubahan fisik karena pubertas serta perubahan kognitif dan sosial. Menurut Seifert dan Hoffnung (1987), periode ini umumnya dimulai sekitar usia 12 tahun hingga akhir masa pertumbuhan fisik, yaitu sekitar usia 20 tahun.
2.Pandangan Teoritis tentang Remaja
Ada dua pandangan teoritis tentang remaja. Menurut pandangan teoritis pertama – yang dicetuskan oleh psikolog G. Stanley Hall – : adolescence is a time of “storm and stress “. Artinya, remaja adalah masa yang penuh dengan “badai dan tekanan jiwa”, yaitu masa di mana terjadi perubahan besar secara fisik, intelektual dan emosional pada seseorang yang menyebabkan kesedihan dan kebimbangan (konflik) pada yang bersangkutan, serta menimbulkan konflik dengan lingkungannya (Seifert & Hoffnung, 1987). Dalam hal ini, Sigmund Freud dan Erik Erikson meyakini bahwa perkembangan di masa remaja penuh dengan konflik. Keyakinan ini tercermin dari teori mereka tentang perkembangan manusia.
Menurut pandangan teoritis kedua, masa remaja bukanlah masa yang penuh dengan konflik seperti yang digambarkan oleh pandangan yang pertama. Banyak remaja yang mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya, serta mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan kebutuhan dan harapan dari orang tua dan masyarakatnya.
Bila dikaji, kedua pandangan tersebut ada benarnya, namun sangat sedikit remaja yang mengalami kondisi yang benar-benar ekstrim seperti kedua pandangan tersebut (selalu penuh konflik atau selalu dapat beradaptasi dengan baik). Kebanyakan remaja mengalami kedua situasi tersebut (penuh konflik atau dapat beradaptasi dengan mulus) secara bergantian (fluktuatif).
3.Pertumbuhan Fisik Remaja
Seseorang akan mengalami pertumbuhan fisik (tinggi dan berat badan) yang sangat pesat pada usia remaja yang dikenal dengan istilah growth spurt. Growth spurt merupakan tahap pertama dari serangkaian perubahan yang membawa seseorang kepada kematangan fisik dan seksual.
Pada usia 12 tahun, tinggi badan rata-rata remaja putra USA sekitar 150, sementara remaja putri sekitar 154 cm. Pada usia 18 tahun, tinggi rata-rata remaja putra USA sekitar 177 cm, sedangkan remaja putri hanya 163 cm. Kekepatan pertumbuhan tertinggi pada remaja putri terjadi sekitar usia 11 – 12 tahun, sementara pada remaja putra, dua tahun lebih lambat. Pada masa pertumbuhan maksimum ini, remaja putri bertambah tinggi badannya sekitar 3 inci, sementara remaja putra bertambah lebih dari 4 inci per tahunnya (Marshall, dalam Seifert & Hoffnung, 1987).
Seperti halnya tinggi badan, pertumbuhan berat badan juga meningkat pada usia remaja. Pertumbuhan berat badan ini lebih sulit diprediksi daripada tinggi badan, dan lebih mudah dipengaruhi oleh diet, latihan fisik, dan pola hidup.
Pada usia remaja, tubuh remaja putri lebih berlemak daripada remaja putra. Selama masa pubertas, lemak tubuh remaja putra menurun dari sekitar 18 – 19 % menjadi 11 % dari bobot tubuh. Sementara pada remaja putri, justru meningkat dari sekitar 21 % menjadi sekitar 26 – 27 % (Sinclair, dalam Seifert & Hoffnung, 1987).
Saat ini, remaja mengalami perubahan fisik (dalam tinggi dan berat badan) lebih awal dan cepat berakhir daripada orang tuanya. Kecenderungan ini disebut trend secular. Sebagai contoh, seratus tahun yang lalu, remaja USA dan Eropa Barat mulai menstruasi sekitar usia 15 – 17 tahun, sekarang sekitar 12 – 14 tahun. Di tahun 1880, laki-laki mencapai tinggi badan sepenuhnya pada usia 23 – 24 tahun dan perempuan pada usia 19 – 20 tahun, sekarang laki-laki mencapai tinggi maksimum pada usia 18 – 20 dan perempuan pada usia 13 – 14 tahun.
Trend secular terjadi sebagai akibat dari meningkatnya faktor kesehatan dan gizi, serta kondisi hidup yang lebih baik. Sebagai contoh, meningkatnya tingkat kecukupan gizi dan perawatan kesehatan, serta menurunnya angka kesakitan (morbiditas) di usia bayi dan kanak-kanak.
4.Pubertas
Pubertas adalah periode pada masa remaja awal yang dicirikan dengan perkembangan kematangan fisik dan seksual sepenuhnya (Seifert & Hoffnung, 1987). Pubertas ditandai dengan terjadinya perubahan pada ciri-ciri seks primer dan sekunder.
Ciri-ciri seks primer memungkinkan terjadinyanya reproduksi. Pada wanita, ciri-ciri ini meliputi perubahan pada vagina, uterus, tube fallopi, dan ovari. Perubahan ini ditandai dengan munculnya menstruasi pertama. Pada pria, ciri-ciri ini meliputi perubahan pada penis, scrotum, testes, prostate gland, dan seminal vesicles. Perubahan ini menyebabkan produksi sperma yang cukup sehingga mampu untuk bereproduksi, dan perubahan ini ditandai dengan keluarnya sperma untuk pertama kali (biasanya melalui wet dream).
Ciri-ciri seks sekunder meliputi perubahan pada buah dada, pertumbuhan bulu-bulu pada bagian tertentu tubuh, serta makin dalamnya suara. Perubahan ini erat kaitannya dengan perubahan hormonal. Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin, kemudian dilepaskan melalui aliran darah menuju berbagai organ tubuh.
Kelenjar seks wanita (ovaries) dan pria (testes) mengandung sedikit hormon. Hormon ini berperan penting dalam pematangan seksual. Kelenjar pituitary (yang berada di dalam otak) merangsang testes dan ovaries untuk memproduksi hormon yang dibutuhkan. Proses ini diatur oleh hypothalamus yang berada di atas batang otak.
5.Dampak Pertumbuhan Fisik terhadap Kondisi Psikologis Remaja
Pertumbuhan fisik yang sangat pesat pada masa remaja awal ternyata berdampak pada kondisi psikologis remaja, baik putri maupun putra. Canggung, malu, kecewa, dll. adalah perasaan yang umumnya muncul pada saat itu.
Hampir semua remaja memperhatikan perubahan pada tubuh serta penampilannya. Perubahan fisik dan perhatian remaja berpengaruh pada citra jasmani (body image) dan kepercayaan dirinya (self-esteem).
Ada tiga jenis bangun tubuh yang menggambarkan tentang citra jasmani, yaitu endomorfik, mesomorfik dan ektomorfik. Endomorfik banyak lemak sedikit otot (padded). Ektomorfik sedikit lemak sedikit otot (slender). Mesomorfik sedikit lemak banyak otot (muscular).
6.Masalah Kesehatan pada Remaja
Remaja merupakan usia paling sehat dibanding kanak-kanak dan dewasa karena sedikitnya penyakit yang dialami kelompok usia ini. Akan tetapi, remaja memiliki resiko kesehatan paling tinggi karena faktor kecelakaan, alkohol, narkoba, hamil diluar nikah, kebiasaan makan (diet) dan perilaku hidup sehat yang buruk
Referensi :
Seifert, K.L. & Hoffnung, R.J. (1987). Child and Adolescent Development. Boston : Houghton Mifflin Co.
Karakteristik Remaja
By: Melly Latifah
Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University
Periode remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu.
Kebanyakan ahli memandang masa remaja harus dibagi dalam dua periode karena terdapat ciri-ciri perilaku yang cukup banyak berbeda dalam kedua (sub) periode tersebut. Pembagian ini biasanya menjadi: periode remaja awal (early adolescence), yaitu berkisar antara umur 13 sampai 17 tahun; dan periode remaja akhir, yaitu 17 sampai 18tahun (atau umur dewasa menurut hukum yang berlaku di suatu negara).
Secara umum, periode remaja merupakan klimaks dari periode-periode perkembangan sebelumnya. Dalam periode ini apa yang diperoleh dalam masa-masa sebelumnya diuji dan dibuktikan sehingga dalam periode selanjutnya individu telah mempunyai suatu pola pribadi yang lebih mantap.
Pertumbuhan fisik dalam periode pubertas terus berlanjut sehingga mencapai kematangan pada akhir periode remaja. Masalah-masalah sehubungan dengan perkembangan fisik pada periode pubertas (malu, atau rendah diri, takut gemuk, pingin punya kumis dan lain-lain) masih berlanjut, tetapi akhirnya mereda (Irwanto, dkk., 1989).
Ciri-ciri perilaku yang menonjol pada usia-usia ini terutama terlihat pada perilaku sosial. Dalam masa-masa ini teman sebaya mempunyai arti yang amat penting. Mereka ikut dalam klub-klub, klik-klik atau geng-geng sebaya yang perilaku dan nilai-nilai kolektifnya sangat mempengaruhi perilaku serta nilai-nilai individu-individu yang menjadi anggotanya.
Inilah proses dimana individu membentuk pola perilaku dan nilai-nilai baru yang pada gilirannya bisa menggantikan nilai-nilai serta pola perilaku yang dipelajarinya di rumah.
Remaja adalah seorang idealis, ia memandang dunianya seperti apa yang ia inginkan, bukan sebagaimana adanya. Ia suka mimpi-mimpi yang sering membuatnya marah, cepat tersinggung atau frustasi. Selain itu, oleh keluarga dan masyarakat ia dianggap sudah menginjak dewasa, sehingga diberi tanggung jawab layaknya seorang yang sudah dewasa. Ia mulai memperhatikan prestasi dalam segala hal, karena ini memberinya nilai tambah untuk kedudukan sosialnya di antara teman sebaya maupun orang-orang dewasa.
Periode remaja adalah periode pemantapan identitas diri. Pengertiannya akan “siapa aku” yang dipengaruhi oleh pandangan orang-orang sekitarnya serta pengalaman-pengalaman pribadinya akan menentukan pola perilakunya sebagai orang dewasa.
Pemantapan identitas diri ini tidak selalu mulus, tetapi sering melalui proses yang panjang dan bergejolak. Oleh karena itu, banyak ahli menamakan periode ini sebagai masa-masa storm and stress.
Referensi :
Seifert, K.L. & Hoffnung, R.J. (1987). Child and Adolescent Development. Boston : Houghton Mifflin Co.
Thursday, April 3, 2008
PERKEMBANGAN KOGNITIF (COGNITIVE DEVELOPMENT)
By: Melly Latifah
(Updated on March, 2010)
Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University
1. Definisi Kognisi
2. Perkembangan Kognitif dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya
3. Tahapan Perkembangan Kognitif
DAFTAR PUSTAKA :
1. Hetherington, E. Mavis & Parke, Ross D. 1986. Child Psychology : A Contemporary Viewpoint. McGraw-Hill, Inc, Singapore.
2. Miller, P.H. 1993. Theories of Developmental Psychology (3rd Ed.).W.H. Freeman & Co., New York.
3. Knoers, A.M.P. Haditono, S.R. 1992. Psikologi Per-kembangan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
4. Morgan, C.T.;King, R.A.; Weisz, J.R. & Schopler, J. Intoduction to psychology.(7th Ed).McGraw-Hill Book Company.Singapore.
5. Papalia, D.E. & S.W. Olds.1989. Human Development. 4 th ed. McGraw-Hill, Inc. New York.
6.Santrock, J.W.1986.Psychology: The Science of Mind and Behaviour.WM.C. Brown Publishers. Dubuque, Iowa.
7.Seifert, K.L. & Hoffnung, R.J. 1987. Child and Adolescent Development. Houghton Mifflin Co. Boston.
Wednesday, April 2, 2008
Proses Mengetahui pada Anak
(March, 2008)
Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University
DAFTAR PUSTAKA :
- Hetherington, E. Mavis & Parke, Ross D. 1986. Child Psychology : A Contemporary Viewpoint. McGraw-Hill, Inc, Singapore.
- Miller, P.H. 1993. Theories of Developmental Psychology (3rd Ed.). W.H. Freeman & Co., New York.
- Morgan, C.T.; King, R.A.; Weisz, J.R. & Schopler, J. 1986. Intoduction to psychology. (7th Ed). McGraw-Hill Book Company. Singapore.
- Pressley, M. 1990. Cognitive Strategy Instruction that Really Improves Children’s Academic Performance. Cambridge, MA: Bookline Books.
- Vasta, R., Haith, M M., & Miller, SA. 1992. Child Psychologi : The Modern Science. John Wiley & Sons. Inc. New York.
Sunday, March 2, 2008
Metode Pembelajaran yang Baik
(March, 2008)
Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology
Bogor Agriculture University
Banyak orang tua yang masih beranggapan bahwa belajar itu seharusnya hanya di ruang kelas, di mana anak-anak duduk tekun mendengarkan gurunya menjelaskan setiap mata pelajaran. Bahkan untuk pendalamannya, anak seharusnya diberi pekerjaan rumah (PR). Ternyata, banyak juga guru yang berpendapat demikian. Apakah benar bahwa seperti itulah metode pembelajaran yang baik? Bagaimanakah metode pembelajaran yang baik itu?
Metode pembelajaran yang baik seharusnya selaras dan mendukung pencapaian tujuan kurikulum yang baik. Di Indonesia, kurikulum sekolah harus selaras dengan Undang-Undang Sisdiknas pasal 3 nomor 20 tahun 2003, yang pada intinya adalah mengamanat kepada setiap sekolah untuk melaksanakan pendidikan secara holistik dengan cara mengembangkan seluruh potensi peserta didik. Dengan kata lain, metode pembelajaran yang baik bukan hanya mengembangkan aspek kognitif atau akademik saja, tetapi juga harus mampu membentuk manusia utuh (whole person) yang cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran spiritual bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (the person within a whole) (Megawangi, Latifah, Dina, 2004).
Berdasarkan paparan di atas, maka sangat penting bagi para pendidik untuk menyadari pentingnya konsep pendidikan anak secara holistik, yaitu konsep pendidikan yang mengembangkan seluruh potensi anak dan metode pembelajarannya disajikan secara terintegrasi dan menyenangkan bagi anak sehingga anak dapat terkembangkan berbagai potensinya secara simultan. Hal ini sesuai dengan pemikiran para pakar dan pendidik yang bergabung dalam NAEYC (National Association for the Education of Young Children) di AS (yang beranggotakan lebih dari 100.000 orang dari berbagai negara) yang menekannkan bahwa pendidikan harus sesuai dengan konsep Developmentally Appropriate Practices (DAP) (Megawangi, dkk., 2004).
Metode pembelajaran yang sejalan dengan konsep DAP adalah metode pembelajaran yang menyenangkan bagi anak. Metode ini, selain sesuai dengan tahapan perkembangan anak, juga memperhatikan keunikan setiap anak. Metode pembelajaran dengan konsep DAP dianggap dapat mempertahankan, bahkan meningkatkan gairah belajar anak-anak. Konsep DAP memperlakukan anak sebagai individu yang utuh (the whole child) yang melibatkan empat komponen, yaitu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sifat alamiah (dispositions), dan perasaan (feelings); karena pikiran, emosi, imajinasi, dan sifat alamiah anak bekerja secara bersamaan dan saling berhubungan. Dengan kata lain, metode pembelajaran yang baik adalah metode pembelajaran yang dapat melibatkan semua aspek ini secara bersamaan, sehingga perkembangan intelektual, sosial, dan karakter anak dapat terbentuk secara simultan (Megawangi, dkk., 2004).
Telah disebutkan bahwa pendidikan di sekolah seharusnya bertujuan untuk membangun manusia holistik. Agar tujuan itu tercapai, maka prinsip pendidikan harus mengacu kepada prinsip-prinsip pembelajaran yang dapat mengarahkan proses pembelajaran secara efektif. Berdasarkan hasil studi pustaka dari berbagai sumber, maka dapat disimpulkan bahwa ada tiga prinsip pembelajaran efektif bagi pendidikan terutama di tingkat dasar (Megawangi, dkk., 2004) :
- Pembelajaran memerlukan pastisipasi aktif para siswa (belajar aktif). Motivasi belajar akan meningkat kalau siswa terlibat aktif (mempraktekan) dalam mempelajari hal-hal yang konkrit, bermakna, dan relevan dalam konteks kehidupannya.
- Setiap anak belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda
- Anak-anak dapat belajar dengan efektif ketika mereka dalam suasana kelas yang kondusif (conducive learning community), yaitu suasana yang memberikan rasa aman dan penghargaan, tanpa ancaman, dan memberikan semangat.
Ketiga prinsip pembelajaran tersebut didukung oleh beberapa hasil riset otak yang mempunyai implikasi terhadap pendidikan. National Research Council (1999) dalam Megawangi, dkk. (2004) mengumpulkan dan mengkompilasikan berbagai hasil riset otak yang harus menjadi acuan bagi para pendidik agar proses pendidikan dapat berjalan dengan efektif. Beberapa hasil riset tersebut adalah :
- Proses belajar melibatkan seluruh dimensi manusia (tubuh, pikiran, dan emosi)
- Faktor emosi sangat berperan dalam mempengaruhi sistem limbik otak yang dikenal sebagai otak emosi. Sistem limbik ini berperan dalam memfilter segala macam persepsi yang masuk. Apabila persepsi yang masuk berupa ancaman, ketakutan, kesedihan, maka bagian batang otak yang merupakan otak reptil (binatang) akan lebih berperan sehingga seseorang akan berada dalam modus bertahan atau menyelamatkan diri. Suasana di kelas tradisional yang kaku akan menurunkan fungsi otak menuju batang otak, sehingga anak tidak bisa berpikir efektif. Sedangkan dalam kondisi yang menyenangkan, aman, dan nyaman akan mengaktifkan bagian neo-cortex (otak berpikir), sehingga dapat mengoptimalkan proses belajar dan meningkatkan kepercayaan diri anak.
- Informasi yang menarik dan bermakna akan disimpan lebih lama dalam memori, sedangkan informasi yang membosankan dan tidak relevan, akan mudah dilupakan.
- Kaitan erat antara aspek fisiologi, emosi dan daya ingat mempunyai implikasi penting bagi proses belajar, yaitu : suasana belajar yang menyenangkan, melibatkan seluruh aspek sensori manusia (panca-indera), relevan atau kontekstual, dan yang terpenting, proses belajar harus memberikan rasa kebahagiaan.
- Manusia akan lebih mudah mengerti kalau terlibat secara langsung dalam mengerjakannya, atau dengan ingatan spatial (bentuk atau gambar).
Hasil studi Lewis dan Schaos (1996) dalam Megawangi, dkk. (2004) menunjukkan bahwa suasana kelas yang kondusif akan mempunyai dampak yang positif motivasi dan kemampuan anak. Adapun ciri-ciri kelas yang kondusif sehingga membuat para siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi, berani mencoba (risk-taker), dan menjadi pembelajar sejati adalah sebagai berikut :
- Adanya pendidikan karakter secara eksplisit, sehingga akan terbentuk sikap anak yang saling menghormati, saling menghargai, bertanggung jawab, dan sebagainya.
- Adanya peraturan dan kode etik yang dibuat dengan kesepakatan seluruh kelas dan dipatuhi dengan baik.
- Hubungan antar siswa saling mendukung, tidak terlihat adanya persaingan antar siswa yang tidak sehat.
- Adanya rasa saling percaya dan saling menghormati antar siswa dan guru. Guru menghormati dan memperlakukan siswa dengan baik.
- Guru berusaha mengenal siswa secara pribadi dan mengetahui keunikan masing-masing siswa.
- Guru bertindak sebagai fasilitator yang memberikan peluang berinisiatif bagi siswa dan memotivasi siswa untuk tertarik pada materi pelajaran.
- Guru selalu siap untuk merencanakan kegiatan harian yang dapat menstimulasi seluruh dimensi perkembangan siswa.
- Setiap siswa merasa bahwa keberadaannya sebagai anggota kelas diterima dan dihargai.
- Setiap siswa merasa terlibat dalam pengambilan keputusan, dan para siswa berpartisipasi aktif dalam proses belajar.
- Adanya kesempatan bagi para siswa untuk belajar dalam kelompok sehingga siswa dapat belajar bagaimana berinteraksi secara positif.
- Iklim belajar yang menyenangkan; tidak ada tekanan dan beban yang berlebihan, tetapi siswa-siswa tercelup dalam kegiatan belajar secara intensif.
- Iklim belajar yang memberikan peluang bagi siswa untuk membuat kesalahan sebagai bagian alami dalam proses belajar (tidak memvonis siswa yang belum menguasai pelajaran), sehingga para siswa bisa menjadi risk-taker, dan mempunyai motivasi untuk mempelajari hal-hal yang baru dan sulit.
Dari paparan tersebut di atas, maka kita sebagai orang tua dapat menilai apakah metode pembelajaran di sekolah anak-anak kita sesuai atau tidak dengan ketiga prinsip pembelajaran efektif ? Apakah proses pembelajarannya mempertimbangkan berbagai hal sesuai dengan hasil riset otak ? Apakah suasana kelasnya cukup kondusif bagi proses pembelajaran yang efektif ? Mengacu kepada indikator-indikator di atas, maka kita dapat menilai bagaimana praktek pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia. Sekarang kita dapat menilai apakah tindakan benar jika guru mempermalukan anak di depan kelas, memarahi atau bahkan menghukumnya? Hal ini dapat menyebabkan anak malu untuk mengungkapkan pikirannya di muka umum, dan menjadi tidak percaya diri. Selain suasana kelas yang tidak kondusif, sejak kecil anak-anak kita juga di “vonis” dengan adanya sistem ranking di kelas, sehingga ada istilah “mendapatkan ranking” (sepuluh besar) atau “tidak masuk ranking”. Sebagian besar anak kita sudah divonis bodoh sejak kecil karena hanya sedikit saja yang mendapat ranking. Terlebih jika anak sering dihukum dan dikritik oleh gurunya. Kondisi seperti ini akan membuat anak-anak kita menjadi individu-individu yang tidak memiliki rasa percaya diri atau malas untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Mungkin hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa kualitas SDM Indonesia berdasarkan Human Development Index (HDI) cukup memprihatinkan?
Jika banyak guru yang mengajar di kelas dengan suasana yang tidak kondusif, maka hal itu bukan semata kesalahan guru, tetapi merupakan kesalahan sebuah sistem pendidikan yang orientasinya kepada mengejar keberhasilan akademik, yaitu sistem yang mengejar target kurikulum sekolah dengan segenap jadwal tes harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Padahal menurut Megawangi, dkk. (2004), untuk anak-anak usia dini, yang terpenting adalah ditanamkan sikap agar anak selalu cinta belajar, bukan semata-mata harus bisa. Jika harus bisa (dengan mengadakan ulangan atau tes), suasana belajar menjadi penuh beban, sehingga otak limbik anak tertutup, yang akhirnya membuat anak tidak dapat mencapai potensi optimalnya.
Nah, bagaimana pendapat Anda sekarang tentang metode pembelajaran anak Anda di sekolah? Apakah belajar itu harus selalu di ruang kelas dengan suasana yang membosankan? Apakah sekolah anak Anda sudah menerapkan metode pembelajaran yang baik? Silakan Anda menilainya.
Referensi :
BAGAIMANA ANAK BELAJAR?
(Tinjauan Psikologi Kognitif)
(March, 2008)
Department of Family & Consumer Sciences
Faculty of Human Ecology, Bogor Agricultural University
Piaget berteori bahwa selama perkembangannya, manusia mengalami perubahan-perubahan dalam struktur berfikir, yaitu semakin terorganisasi. Selain itu, suatu struktur berpikir yang dicapai selalu dibangun pada struktur dari tahap sebelumnya. Dengan kata lain, mengembangkan pengetahuan anak sama artinya dengan membangun struktur berfikir anak. Untuk membangun kemampuan berfikir yang baik, dibutuhkan proses yang bertahap dan seksama agar terbentuk fondasi kemampuan berfikir yang kokoh, baik dan benar.
Pembangunan struktur kognitif pada seorang anak, hasilnya sangat ditentukan oleh empat faktor, yaitu kematangan fisik, pengalaman dengan obyek-obyek fisik, pengalaman sosial, dan ekuilibrasi. Dari hasil interaksi faktor-faktor itulah, kemampuan anak dalam berfikir mengalami perkembangan. Kematangan fisik berkaitan dengan kematangan organ-organ tubuh untuk berfikir yang menentukan kesiapan anak untuk belajar. Sementara itu, pengalaman yang diperoleh anak dari lingkungannya – baik berupa pengalaman dengan obyek-obyek fisik maupun sosial - akan membawa kemajuan kognitif kepada anak melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Proses asimilasi dan amomodasi membantu anak-anak beradaptasi terhadap lingkungannya karena melalui proses-proses tersebut pemahaman mereka mengenai dunia semakin dalam dan luas. Dengan demikian, jelas bahwa Pada dasarnya, manusia mengetahui sesuatu setelah yang bersangkutan melakukan proses belajar dari lingkungannya.
Prinsip-prinsip psikologi kognitif dalam dekade terakhir menurut Jonassen (1987) memiliki asumsi-asumsi yang sangat berbeda dibandingkan dengan asumsi-asumsi ketika behaviorisme mendominasi teori belajar. Menurut asumsi terbaru, belajar lebih dari sekedar berespon pasif terhadap stimuli atau informasi tertentu, tetapi individu seharusnya menghampiri stimuli tersebut, mengakses pengetahuan yang sudah ada untuk dihubungkan dengan stimuli itu, menyusun kembali struktur pengetahuan tersebut untuk mengakomodasikan informasi baru tersebut, dan akhirnya mengkodekan dasar pengetahuan yang telah direstrukturisasi tersebut ke dalam ingatan, yang kemudian bisa diakses untuk menerangkan dan menafsirkan informasi baru.
Menurut Jonassen (1987), pengertian yang dihasilkan oleh setiap individu mengenai materi yang sedang dipelajarinya bersifat individual dan tidak dapat dikontrol oleh pengarahan, tetapi dikonstuksi oleh individu sendiri dengan menggunakan pengetahuan yang telah ada sebagai fondasi dalam menginter-pretasikan/menafsirkan informasi dan membangun pengetahuan baru. Dengan demikian, menurut Wittrock (1974) dalam Jonassen (1987), belajar bukanlah sebuah resepsi pasif dari pengorganisasian dan abstraksi seseorang, melainkan sebuah proses konstruktif aktif.
Menurut Jonassen (1987), dalam bagian tulisannya yang berjudul “Integrating Learning Strategies into Courseware to Fasilitate Deeper Processing”, belajar merupakan sebuah proses konstruktif aktif ketika individu mengartikan informasi dengan cara mengakses dan menerapkan pengetahuan yang telah ada. Sebuah model instruksional yang memanifestasikan prinsif tersebut adalah hipotesa generatif.
Menurut hipotesa generatif, pemahaman (comprehension) memerlukan transfer proaktif dari pengetahuan yang telah ada ke materi baru, yang mana hal ini tergantung pada susunan transformasi dan elaborasi kognitif kompleks yang bersifat unik pada setiap individu. Dalam pemahaman ini, belajar merupakan suatu proses generatif. Artinya, belajar merupakan proses aktif yang ditimbulkan dari diri sendiri. Kegiatan-kegiatan belajar generatif menuntut individu secara sadar dan sengaja untuk menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah mereka miliki, bukan hanya sekedar merespon material tanpa menggunakan pengetahuan kontekstual. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut, informasi dikonsfirmasikan dan dielaborasikan ke dalam bentuk yang lebih pribadi sehingga lebih dapat diingat oleh individu.
Menurut Resnick (1989), belajar mengandung tiga aspek yang saling berhubungan. Pertama, belajar merupakan sebuah proses konstruksi pengetahuan, bukan merupakan perekaman atau absorpsi pengetahuan. Kedua, belajar adalah knowledge-dependent, artinya : orang menggunakan pengetahuan yang ada untuk mengkonstruksi pengetahuan baru. Ketiga, belajar sangat dipengaruhi situasi ketika proses belajar itu terjadi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belajar bukanlah merupakan proses mekanis perekaman pengetahuan, tetapi merupakan proses konstruksi aktif yang seharusnya disadari dan dilakukan secara sengaja (generatif) oleh individu, yang dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimilikinya serta situasi dimana proses belajar itu terjadi.
DAFTAR PUSTAKA :
- Hetherington, E. Mavis & Parke, Ross D. 1986. Child Psychology : A Contemporary Viewpoint. McGraw-Hill, Inc, Singapore.
- Jonassen, D.H. 1987. Integrating Learning Strategies into Courseware to Facilitate Deeper Processing. Dalam Weinert dan Kline (eds). Metacognition, Motivation and Understanding (pp. 151-181). Hillsdale. NJ: Lawrence Erlbaum Associates.
- Miller, P.H. 1993. Theories of Developmental Psychology (3rd Ed.). W.H. Freeman & Co., New York.
- Papalia, D.E. & S.W. Olds. 1989. Human Development. 4 th ed. McGraw-Hill, Inc. New York.
- Resnick, L.B. 1989. Introduction. Dalam L.B. Resninck (ed). Knowing, Learning, and Instruction: Essay in Honor of Robert Glaser (pp. 1-24). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.
- Seifert, K.L. & Hoffnung, R.J. 1987. Child and Adolescent Development. Houghton Mifflin Co., Boston









